PEREKONOMIAN KERAKYATAN ADALAH SOLUSI BAGI PETANI KECIL

Disusun oleh:
Wungu Endah Cahyani (D24130061) 2013
Adnan (F14120113)
2012
Lilis Nurhadijah (G44130047) 2013
INSTITUT
PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Saat ini usaha dalam sektor pertanian di Indonesia dikategorikan kedalam
usaha dalam lingkup yang masih kecil, dikarenakan banyaknya pegusaha dalam
bidang pertanian yang berskala tetap namun dalam lingkungan tekanan penduduk
lokal yang meningkat. Masyarakat petani di Indonesia mempunyai sumberdaya yang terbatas
sehingga menciptakan tingkat hidup yang rendah, dan bergantung seluruhnya kepada
produksi yang subsisten dan kurang
memperoleh pelayanan kesehatan, pendidikan dan pelayanan lainnya.

Hal ini sangat perlu
difokuskan mengingat luas wilayah pertanian indonesia sebesar 39.594.536,91 (BPS 2012) yang
sangat luas masih perlu digenjot lagi untuk lebih meningkatkan kuantitas
produktivitas pertanian nasional. Perlu diketahui bahwa apabila kita
membandingkan sistem pertanian kita dengan jepang, maka di jepang mulai sejak
tahun 1961 sudah diterapkan suatu sistem konsolidasi lahan. Dimana luas lahan
per kapita sekitar 10-30 ha tidak sebanding dengan luas lahan indonesia yang hanya
mencapai 5 ha per kapita.
Badan Pusat Statistik
(BPS) merilis hasil Sensus Pertanian (ST) 2013 dengan jumlah rumah tangga
pertanian sebanyak 26,14 juta. Sebagian besar dari para pekerja di sektor
pertanian hidup di bawah garis kemiskinan. Dominasi rumah tangga yang bekerja
di sektor ini berasal dari Jawa Timur sebanyak 4,98 juta rumah tangga, lalu
disusul Jawa Tengah 4,29 juta rumah tangga, dan 3,06 juta jiwa dari Jawa Barat.
Dengan begini sektor pertanian perlu mendapat perhatian besar oleh pemerintah.
Bagaimana caranya untuk memajukan usaha pertanian, mengurangi penduduk miskin
dan sebagainya. Ekonomi Indonesia pada triwulan IV-2012 yang digambarkan oleh
PDB atas dasar harga konstan 2000 turun sebesar 1,45 persen dibanding triwulan
sebelumnya (q-to-q). Kontraksi pada triwulan IV-2012 ini disebabkan Sektor
Pertanian mengalami penurunan cukup signifikan sebesar 23,06 persen karena
siklus musiman (Basri. Y.Z, 2003)
Sebagian petani Indonesia adalah
petani kecil (gurem) yang memiliki aset sangat kecil dan berpenghasilan yang
sangat rendah. Jika pemerintah tidak cepat menanggapi hal ini maka pertanian
Indonesia akan semakin terpuruk. Ditambah lagi maraknya alih fungsi lahan yang
membuat sektor pertanian semakin terpuruk. Tidak ada suatu program pembangunan
pertanian yang dapat memuaskan dalam jangka panjang apabila hanya berhasil meningkatkan
kehidupan petani-petani yang sudah mampu saja, meskipun dengan efisiensi yang
tinggi mengenai cara-cara penggunaan sumber-sumber yang tersedia.
Petani kecil adalah Petani yang pendapatannya rendah, yaitu kurang dari
setara 240 kg beras per kapita per tahun, memiliki lahan sempit (lebih kecil dari 0,25 ha lahan
sawah di Jawa atau 0,5 ha di luar Jawa. Bila petani tersebut juga memiliki
lahan tegal maka luasnya 0,5 ha di Jawa dan 1,0 ha di luar Jawa), kekurangan
modal dan memiliki tabungan yang terbatas,serta memiliki pengetahuan terbatas
dan kurang dinamis. (Adjid, D.A. 2001)
Untuk lebih jelasnya, di dalam tulisan ini akan dibahas mengenai program strategis pertanian di Indonesia, permasalahan usaha
tani kecil di Indonesia serta solusinya.
B.
Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah pada makalah ini adalah :
1.
Rencana program strategis pertanian Indonesia untuk petani kecil di indonesia?
2.
Permasalahan dan bagaimana solusi usaha tani kecil di Indonesia?
C.
Tujuan penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1.
Menjelaskan rencana program strategis pertanian Indonesia untuk pertanian kecil di indonesia?
2.
Dapat menjelaskan permasalahan dan bagaimana solusi usaha tani di Indonesia?
PEMBAHASAN
A. rencana program strategis
pertanian Indonesia untuk pertanian kecil di indonesia
Ketertinggalan pada sektor pertanian khususnya di pedesaan disebabkan
kebijakan masa lalu yang melupakan sektor pertanian sebagai dasar keunggulan
komparatif maupun kompetitif. Sesungguhnya pemberdayaan ekonomi masyarakat
pedesaan bukan hanya bermanfaat bagi masyarakat pedesaan itu sendiri, tetapi
juga membangun kekuatan ekonomi Indonesia berdasarkan kepada keunggulan
komparatif dan kompetitif yang dimiliki (Basri. Y.Z, 2003).
Revitalisasi sektor pertanian diperlukan untuk mendukung pembaruan
pertumbuhan ekonomi yang sehat dan merupakan komponen kunci dari strategi
pembangunan pedesaan. Agenda pembangunan perekonomian nasional sektor pertanian
sangat perlu memepertimbangkan perkembangan petani kecil yang tersebar luas di
pedesaan. Pembangunan ini berfokus pada dua bidang: memulihkan perolehan produktivitas antara produsen pedesaan,
dan menyediakan landasan bagi
![]() |
keberlanjutan jangka panjang perolehan produktivitas hasil tani.

Selama satu dekade terakhir, Indonesia telah mencapai memiliki kinerja terbaik di antara perekonomian Asia Timur sebelum terjadinya krisis ekonomi di Asia Timur. Indonesia melaju pada kecepatan 7,1 persen antara 1985 dan 1995, dan mencapai pertumbuhan PDB riil 7,8 persen pada tahun 1996. Antara tahun 1970 dan 1996, jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan resmi menurun dari 60 persen menjadi sekitar 11 persen - sekitar dua puluh delapan juta orang - yang mencerminkan komitmen kuat pemerintah untuk pengentasan kemiskinan. Namun, jumlah ini meningkat menjadi 23,4 persen pada puncak krisis pada tahun 1999 tetapi sejak itu turun kembali ke 16,7 persen, lebih rendah dari tingkat sebelum krisis sebesar 17,6 persen. (Adjid, D.A. 2001)
Termasuk didalamnya sektor industri, pertanian masih merupakan sektor yang
berperan penting bagi perekonomian
bangsa Indonesia. Berdasarkan PDB pertanian tahun 2007, pertumbuhan sektor pertanian pasca krisis
mencapai 4,62%, dan berdasarkan neraca perdagangan, kinerja pertanian setiap
tahunnya selalu meningkat. Data dari BPS bahwa sektor
pertanian merupakan salah satu penyumbang terbesar perekonomian nasional
sekitar Rp. 327,6 triliun (BPS 2012). Melihat potensi yang demikian besarnya,
berbagai program pembangunan pertanian digalakkan sebagai upaya pemenuhan
kebutuhan hidup manusia.
Pembangunan di sektor pertanian masih dititik
beratkan pada peningkatan produksi dan produktivitas tanaman pangan. Berbagai program pembangunan
pertanian digalakkan melalui kegiatan penyuluhan pertanian. Namun, upaya
pembangunan pertanian melalui peningkatan pemanfaatan potensi alam ini telah menimbulkan masalah baru bagi
kelestarian alam dan struktur komposisi tanah (Sutanto, 2002). Perubahan iklim dan kebutuhan akan keberlanjutan
energi yang menjadi tantangan dalam produktivitas agrosistem dan persediaan
bahan pangan. Oleh sebab itu, pegusaha
pertanian kecil harus di kembangkan untuk menjamin generasi yang akan datang dengan
prinsip yang baik. Inovasi pertanian sangatlah penting karena dapat menjadi salah satu alternatif dalam menjawab
kegagalan dari penerapan sistem pertanian konvensional pada umumnya.
Hal ini didukung dengan peningkatan jumlah
penduduk sehingga turut mempengaruhi upaya peningkatan produktivitas pertanian.
Sektor pertanian menjadi tumpuan harapan bagi keberlanjutan pembangunan ekonomi
nasional terutama di pedesaan di masa yang akan datang. Pengertian Menurut Mubyarto (2001) sistem ekonomi
kerakyatan adalah sistem ekonomi yang memihak pada kepentingan ekonomi rakyat,
dan ekonomi rakyat adalah sektor ekonomi yang mencakup usaha-usaha kecil,
menengah dan koperasi sebagai pilar utama pembangunan ekonomi nasional.
Ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi nasional yang disusun sebagai
usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan, di mana produksi dikerjakan oleh
semua, untuk semua, di bawah pimpinan atau pengendalian anggota-anggota
masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam
mengendalikan jalannya roda perekonomian (Baswir, 2008).
Ekonomi kerakyatan adalah tatalaksana ekonomi yang bersifat kerakyatan yaitu penyelenggaraan ekonomi yang memberi dampak kepada kesejahteraan rakyat kecil dan kemajuan ekonomi rakyat, yaitu keseluruhan aktivitas perekonomian yang dilakukan oleh rakyat kecil.
Ekonomi kerakyatan adalah tatalaksana ekonomi yang bersifat kerakyatan yaitu penyelenggaraan ekonomi yang memberi dampak kepada kesejahteraan rakyat kecil dan kemajuan ekonomi rakyat, yaitu keseluruhan aktivitas perekonomian yang dilakukan oleh rakyat kecil.
Pengusaha pertanian kecil merupakan salah satu ujung tombak pembangunan nasional yang
mempunyai peran penting. Upaya mewujudkan pembangunan nasional bidang pertanian
(agribisnis) masa mendatang merupakan sejauh mungkin mengatasi masalah dan
kendala yang sampai sejauh ini belum mampu diselesaikan secara tuntas sehingga
memerlukan perhatian yang lebih serius. Satu hal yang sangat kritis adalah
bahwa meningkatnya produksi pertanian (agribisnis) atau output selama ini belum
disertai dengan meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani secara
signifikan dalam pengusaha pertanian kecilnya. Petani sebagai unit agribisnis
terkecil belum mampu meraih nilai tambah yang rasional sesuai skala pengusaha
pertanian kecil terpadu (integrated farming system). Oleh karena itu persoalan
membangun kelembagaan (institution) di bidang pertanian dalam pengertian yang
luas menjadi semakin penting, agar petani mampu melaksanakan kegiatan yang
tidak hanya menyangkut on farm bussiness saja, akan tetapi juga terkait erat
dengan aspek-aspek off farm agribussinessnya (Tjiptoherijanto, 1997).
Disatu sisi, persoalan dana yang
dibutuhkan dalam pertanian di Indonesia tergolong mahal. Ragam pupuk,
pestisida, dan benih unggul hampir keseluruhannya merupakan barang impor
sehingga biaya pengadaannya bagi petani kita terasa mahal. Lain dari pada itu,
harga jual pasca panenpun acapkali tidak berpihak bagi mereka. Jumlah yang
harus dikeluarkan dalam produksi pertanian tidak sebanding dengan harga jual pasca
panen yang mengakibatkan petani kita kian terpuruk. Akibatnya, petani kita
tidak pernah bertahan pada suatu komoditas tani tertentu melainkan mencoba
seluruh komoditas meskipun pengetahuannya untuk itu belum memadai.
Di Indonesia pula, masih sangat kecil sekali Usaha tani, sehingga menyebabkan kurangnya
efisien produksi. Hal-hal yang harus ditempuh untuk mengatasi hal tersebut
yaitu melalui pendekatan kerja kepada kelompok Pendekatan kerja ini adalah salah satu metode untuk
meningkatkan segi produktivitas dan kualitas pertanian, namun kembali lagi jika kita melihat
kemampuan petani untuk membiayai pengusaha pertanian kecilnya sangat terbatas
sehingga produktivitas yang dicapai masih di bawah produktivitas potensial. Mengingat keterbatasan petani dalam permodalan
tersebut dan rendahnya aksesibilitas terhadap sumber permodalan formal, maka
dilakukan pengembangan dan mempertahankan beberapa penyerapan input produksi
biaya rendah (Low cost production) yang sudah berjalan ditingkat petani. Selain
itu, penanganan pasca panen dan pemberian kredit lunak serta bantuan langsung
dari masyarakat kepada petani sebagai pembiaayan usaha tani memang sudah
sepantasnya terlaksana
Produktifitas tenaga kerja yang relatif rendah
(productive and remmunerative employment) merupakan akibat keterbatasan
teknologi, keterampilan untuk pengelolaan sumberdaya yang effisien. Sebaiknya
dalam pengembangan komoditas pengusaha pertanian kecil diperlukan perbaikan
dibidang teknologi. Seperti contoh teknologi budidaya, teknologi penyiapan sarana
produksi terutama pupuk dan obat-obatan serta pemacuan kegiatan diversifikasi
usaha yang tentunya didukung dengan ketersediaan modal (Fadholi, 1981).
Permasalahan sosial yang juga menjadi masalah pengusaha
pertanian kecil di Indonesia yaitu masalah-masalah pembangunan pertanian di
negara-negara yang sedang berkembang bukan semata-mata karena ketidaksiapan
petani menerima inovasi, tetapi disebabkan oleh ketidakmampuan perencana
program pembangunan pertanian menyesuaikan program-program itu dengan kondisi
dari petani-petani yang menjadi “klien” dari program-program tersebut.
Kemiskinan adalah suatu konsep yang sangat relatif, sehingga kemiskinan sangat
kontekstual. Agar bantuan menjadi lebih efektif untuk memperkuat perekonomian
petani-petani miskin, pertama-tama haruslah menemukan di mana akar permasalahan
itu terletak, disamping akar permasalahan itu sendiri (Kasryno, 1984).
Untuk mengatasi dinamika permasalahan pertanian
di Indonesia, maka perlu diperhatikan kembali
faktor- faktor yang dapat mendukung keberhasilan pengembangan dan pembangunan
pertanian, terutama aspek sumberdaya, baik sumberdaya alam maupun sumberdaya
manusia (petani), dan aspek kelembagaan. Teroboson inovatif dalam upaya
mengembalikan kembali kesuburan tanah dan produktifitas harus dilakukan. Pada
saat ini ada harapan sebagai solusi terbaik bagi pertanian di Indonesia dalam
peningkatan hasil produksi yaitu melalui pola pertanian ekonomis berbasis kerakyatan tanpa meninggalkan kearifan
lokal.
Metode ini dikembangkan yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas
pertanian yang ramah lingkungan dan tidak meninggalkan kearifan lokal dengan
pendekatan secara internal ke masyarakat desa yang mayoritas penduduknya adalah
petani kecil. Kerakyatan disini artinya sama dengan community development, yaitu
sebagai suatu penggunaan berbagai pendekatan dan teknik dalam suatu program
tertentu pada masyarakat setempat sebagai kesatuan tindakan dan mengutamakan
perpaduan antara bantuan yang berasal dari luar dengan keputusan dan upaya
masyarakat yang terorganisasi.
Pendekatan internal akan sangat memantau masalah apa saja yang dialami oleh
petani kecil mulai dari masalah diladang mereka hingga masalah internal
keluarga petani kecil yang mungkin sangat bermaslah dalam keadaan ekonominya.
Untuk pendampingan teknik, pola pertanian ekonomis mempunyai beberapa prinsip dasar
diantaranya pemberian pupuk organic yang ramah lingkungan serta ekonomis, peningkatan pertumbuhan akar
tanaman dengan pengaturan pola penanaman padi yaitu dengan jarak yang renggang,
penggunaan bibit tunggal tanpa dilakukan perendaman lahan persawahan. Pemilihan pengembangan pola ekonomis untuk menghasilkan tananam yang unggul berdasarkan pertimbangan beberapa hal berikut :
Dalam aspek lingkungan yang baik dengan tidak digunakannya pupuk dan pestisida
kimia yang harus beli di gantikan dengan pupuk organik dari
alam, serta menggunakan sedikit air (tidak direndam) sehingga terjadi
penghematan dalam penggunaan air. Dalam aspek kesehatan yang baik yaitu tidak tertinggalnya
residu kimia dalam padi/beras akibat dari pupuk/pestisida kimia juga terjaganya
kesehatan para petani karena terhindar dari menghirup uap racun dari pestisida
kimia.
Serta produktifitas yang tinggi sebagai hasil dari diterapkannya prinsip penanaman
yang optimal. untuk lahan yang sudah mulai pulih kesuburan tanah dan ekosistem sawahnya,
hasil yang diperoleh. berkualitas yang tinggi karanen berbasis pada organik , beras organik (organic rice)
yang juga merupakan beras sehat (healthy rice) selain tidak mengandung residu
kimia juga aman dikonsumsi oleh para penderita diabet, penyakit jantung,
hipertensi dan beberapa penyakit lainnya.
Dan hemat penggunaan air. Kebutuhan air hanya 20-30% dari kebutuhan air untuk
cara konvensional, memulihkan kesehatan dan kesuburan tanah, serta mewujudkan
keseimbangan ekologi tanah, membentuk petani mandiri yang mampu meneliti dan
menjadi ahli di lahannya sendiri. Tidak tergantung pada pupuk dan pertisida kimia buatan pabrik yang semakin
mahal dan terkadang langka. Hasil panen pada metode ekonomis pada musim pertama tidak jauh berbeda dengan hasil
sebelumnya (metode konvensional) dan terus meningkat pada musim berikutnya
sejalan dengan meningkatnya bahan organic dan penurunan bahan an-organk dan
kesehatan tanah.
PENUTUP
Kesimpulan yang dapat ditarik dari paper ini adalah:
Di
Indonesia, petani kecil dikategorikan sebagai usaha tani kecil karena
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
· Berusahatani
dalam lingkungan tekanan penduduk lokal yang meningkat
· Mempunyai
sumberdaya terbatas sehingga menciptakan tingkat hidup yang rendah
· Bergantung
seluruhnya atau sebagian kepada produksi yang subsisten
· Kurang
memperoleh pelayanan kesehatan, pendidikan dan pelayanan lainnya
DAFTAR PUSTAKA
Adjid, D.A. 2001. Membangun Pertanian
Modern. Yayasan Pengembangan Sinar Tani, Jakarta.
Badan Pusat Statistk. Beberapa tahun. Statistik
Indonesia, BPS. Jakarta.
Basri.Y.Z,2003,pemberdayaan Ekonomi Masyarakat
Pedesaan,dalam Usahawan Indonesia No30/TH.XXII maret 2003, Lembaga Menajemen
FE-UI, Jakarta
Christenson,
James A. and Jerry W. Robinson, Jr. 1989. Community Development in Perpective.
Iowa State University Press/Ames. United State of America.
Fadholi, 1981'. Ilmu ilaaha Tani, Penebar
Swadaya ,Surabaya
Kasryno, Faisal, 1984. Prospek Pembangunan Ekonomi
Perdesaan Indonesia,. Yayasan Obor Indonesia. jakarta
Tjiptoherijanto,Prijono,1997. Migrasi, Urbanisasi
dan Pasar Kerja di Indonesia, Penerbit Universitas Indonesia Press. Jakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar