animasi bergerak gif
IN YOUR EYES: PEREKONOMIAN KERAKYATAN ADALAH SOLUSI BAGI PETANI KECIL

Kamis, 27 November 2014

PEREKONOMIAN KERAKYATAN ADALAH SOLUSI BAGI PETANI KECIL

PEREKONOMIAN KERAKYATAN ADALAH SOLUSI BAGI PETANI KECIL









Disusun oleh:

Wungu Endah Cahyani                       (D24130061)               2013
Adnan                                                 (F14120113)               2012
                        Lilis Nurhadijah                                  (G44130047)               2013
                       












INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
PENDAHULUAN

A.  Latar belakang

Saat ini usaha dalam sektor pertanian di Indonesia dikategorikan kedalam usaha dalam lingkup yang masih kecil, dikarenakan banyaknya pegusaha dalam bidang pertanian yang berskala tetap namun dalam lingkungan tekanan penduduk lokal yang meningkat. Masyarakat petani di Indonesia mempunyai sumberdaya yang terbatas sehingga menciptakan tingkat hidup yang rendah, dan bergantung seluruhnya kepada produksi yang subsisten dan kurang memperoleh pelayanan kesehatan, pendidikan dan pelayanan lainnya.
Text Box: Tabel 1 pertumbuhan sektor-sektor ekonomi dalam kurun waktu 2000-2012Hal ini sangat berkaitan dengan sektor pertanian indonesia yang masih marginal, mulai dari teknologi yang digunakan, sistem pemahaman petani, tidak sadarnya akan dampak kedepan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar. Apabila kita menginginkan sektor pertanian yang maju dengan kuantitas dan kualitas yang baik, maka salah satu peran penting itu adalah dari pertanian pedesaan yang sebagian besar lingkup lahan pertanian memang terdapat pada pedesaan. Jika kita berkaca pada pertanian pedesaan masih banyak petani yang masih kurang paham bagaimana sistem bertani yang baik. Adapun masyarakat yang kurang paham dengan dampak dari aktivitas masyarakat setempat yang merugikan untuk kedepannya nanti di sektor pertanian. Termasuk didalamnya adalah alih fungsi lahan yang sangat marak terjadi baik di perkotaan maupun dipedesaan. Banyak lahan pertanian yang dialih fungsikan untuk non pertanian semisal saja pembangunan perindustrian, tak heran apabila penyumbang terbesar pertama pendapatan nasional adalah dari sektor perindustrian pengolahan yang hampir menyumbang sekitar Rp. 670,1 trilliun (BPS 2012).
Hal ini sangat perlu difokuskan mengingat luas wilayah pertanian indonesia sebesar 39.594.536,91 (BPS 2012) yang sangat luas masih perlu digenjot lagi untuk lebih meningkatkan kuantitas produktivitas pertanian nasional. Perlu diketahui bahwa apabila kita membandingkan sistem pertanian kita dengan jepang, maka di jepang mulai sejak tahun 1961 sudah diterapkan suatu sistem konsolidasi lahan. Dimana luas lahan per kapita sekitar 10-30 ha tidak sebanding dengan luas lahan indonesia yang hanya mencapai 5 ha per kapita.
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis hasil Sensus Pertanian (ST) 2013 dengan jumlah rumah tangga pertanian sebanyak 26,14 juta. Sebagian besar dari para pekerja di sektor pertanian hidup di bawah garis kemiskinan. Dominasi rumah tangga yang bekerja di sektor ini berasal dari Jawa Timur sebanyak 4,98 juta rumah tangga, lalu disusul Jawa Tengah 4,29 juta rumah tangga, dan 3,06 juta jiwa dari Jawa Barat. Dengan begini sektor pertanian perlu mendapat perhatian besar oleh pemerintah. Bagaimana caranya untuk memajukan usaha pertanian, mengurangi penduduk miskin dan sebagainya. Ekonomi Indonesia pada triwulan IV-2012 yang digambarkan oleh PDB atas dasar harga konstan 2000 turun sebesar 1,45 persen dibanding triwulan sebelumnya (q-to-q). Kontraksi pada triwulan IV-2012 ini disebabkan Sektor Pertanian mengalami penurunan cukup signifikan sebesar 23,06 persen karena siklus musiman (Basri. Y.Z, 2003)
Sebagian petani Indonesia adalah petani kecil (gurem) yang memiliki aset sangat kecil dan berpenghasilan yang sangat rendah. Jika pemerintah tidak cepat menanggapi hal ini maka pertanian Indonesia akan semakin terpuruk. Ditambah lagi maraknya alih fungsi lahan yang membuat sektor pertanian semakin terpuruk. Tidak ada suatu program pembangunan pertanian yang dapat memuaskan dalam jangka panjang apabila hanya berhasil meningkatkan kehidupan petani-petani yang sudah mampu saja, meskipun dengan efisiensi yang tinggi mengenai cara-cara penggunaan sumber-sumber yang tersedia.
Petani kecil adalah Petani yang pendapatannya rendah, yaitu kurang dari setara 240 kg beras per kapita per tahun, memiliki lahan sempit (lebih kecil dari 0,25 ha lahan sawah di Jawa atau 0,5 ha di luar Jawa. Bila petani tersebut juga memiliki lahan tegal maka luasnya 0,5 ha di Jawa dan 1,0 ha di luar Jawa), kekurangan modal dan memiliki tabungan yang terbatas,serta memiliki pengetahuan terbatas dan kurang dinamis. (Adjid, D.A. 2001)
Untuk lebih jelasnya, di dalam tulisan ini akan dibahas mengenai program strategis pertanian di Indonesia, permasalahan usaha tani kecil di Indonesia serta solusinya.

B.  Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah pada makalah ini adalah :
1.      Rencana program strategis pertanian Indonesia untuk petani kecil di indonesia?
2.      Permasalahan dan bagaimana solusi usaha tani kecil di Indonesia?

C.  Tujuan penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1.      Menjelaskan rencana program strategis pertanian Indonesia untuk pertanian kecil di indonesia?
2.      Dapat menjelaskan permasalahan dan bagaimana solusi usaha tani di Indonesia?

PEMBAHASAN

Arencana program strategis pertanian Indonesia untuk pertanian kecil di indonesia

Ketertinggalan pada sektor pertanian khususnya di pedesaan disebabkan kebijakan masa lalu yang melupakan sektor pertanian sebagai dasar keunggulan komparatif maupun kompetitif. Sesungguhnya pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaan bukan hanya bermanfaat bagi masyarakat pedesaan itu sendiri, tetapi juga membangun kekuatan ekonomi Indonesia berdasarkan kepada keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimiliki (Basri. Y.Z, 2003).
Revitalisasi sektor pertanian diperlukan untuk mendukung pembaruan pertumbuhan ekonomi yang sehat dan merupakan komponen kunci dari strategi pembangunan pedesaan. Agenda pembangunan perekonomian nasional sektor pertanian sangat perlu memepertimbangkan perkembangan petani kecil yang tersebar luas di pedesaan. Pembangunan ini berfokus pada dua bidang: memulihkan perolehan produktivitas antara produsen pedesaan, dan menyediakan landasan bagi

keberlanjutan jangka panjang perolehan produktivitas hasil tani.

Selama satu dekade terakhir, Indonesia telah mencapai memiliki kinerja terbaik di antara perekonomian Asia Timur sebelum terjadinya krisis ekonomi di Asia Timur. Indonesia melaju pada kecepatan 7,1 persen antara 1985 dan 1995, dan mencapai pertumbuhan PDB riil 7,8 persen pada tahun 1996. Antara tahun 1970 dan 1996, jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan resmi menurun dari 60 persen menjadi sekitar 11 persen - sekitar dua puluh delapan juta orang - yang mencerminkan komitmen kuat pemerintah untuk pengentasan kemiskinan. Namun, jumlah ini meningkat menjadi 23,4 persen pada puncak krisis pada tahun 1999 tetapi sejak itu turun kembali ke 16,7 persen, lebih rendah dari tingkat sebelum krisis sebesar 17,6 persen. (Adjid, D.A. 2001)
Termasuk didalamnya sektor industri, pertanian masih merupakan sektor yang berperan penting bagi perekonomian bangsa Indonesia. Berdasarkan PDB pertanian tahun 2007, pertumbuhan sektor pertanian pasca krisis mencapai 4,62%, dan berdasarkan neraca perdagangan, kinerja pertanian setiap tahunnya selalu meningkat. Data dari BPS bahwa sektor pertanian merupakan salah satu penyumbang terbesar perekonomian nasional sekitar Rp. 327,6 triliun (BPS 2012). Melihat potensi yang demikian besarnya, berbagai program pembangunan pertanian digalakkan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan hidup manusia.
Pembangunan di sektor pertanian masih dititik beratkan pada peningkatan produksi dan produktivitas tanaman pangan. Berbagai program pembangunan pertanian digalakkan melalui kegiatan penyuluhan pertanian. Namun, upaya pembangunan pertanian melalui peningkatan pemanfaatan potensi alam  ini telah menimbulkan masalah baru bagi kelestarian alam dan struktur komposisi tanah (Sutanto, 2002). Perubahan iklim dan kebutuhan akan keberlanjutan energi yang menjadi tantangan dalam produktivitas agrosistem dan persediaan bahan pangan. Oleh sebab itu, pegusaha pertanian kecil harus di kembangkan untuk  menjamin generasi yang akan datang dengan prinsip yang baik. Inovasi pertanian sangatlah penting karena dapat  menjadi salah satu alternatif dalam menjawab kegagalan dari penerapan sistem pertanian konvensional pada umumnya.
Hal ini didukung dengan peningkatan jumlah penduduk sehingga turut mempengaruhi upaya peningkatan produktivitas pertanian. Sektor pertanian menjadi tumpuan harapan bagi keberlanjutan pembangunan ekonomi nasional terutama di pedesaan di masa yang akan datang. Pengertian Menurut Mubyarto (2001) sistem ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang memihak pada kepentingan ekonomi rakyat, dan ekonomi rakyat adalah sektor ekonomi yang mencakup usaha-usaha kecil, menengah dan koperasi sebagai pilar utama pembangunan ekonomi nasional.
Ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi nasional yang disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan, di mana produksi dikerjakan oleh semua, untuk semua, di bawah pimpinan atau pengendalian anggota-anggota masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengendalikan jalannya roda perekonomian (Baswir, 2008).
Ekonomi kerakyatan adalah tatalaksana ekonomi yang bersifat kerakyatan yaitu penyelenggaraan ekonomi yang memberi dampak kepada kesejahteraan rakyat kecil dan kemajuan ekonomi rakyat, yaitu keseluruhan aktivitas perekonomian yang dilakukan oleh rakyat kecil.
Pengusaha pertanian kecil merupakan salah satu ujung tombak pembangunan nasional yang mempunyai peran penting. Upaya mewujudkan pembangunan nasional bidang pertanian (agribisnis) masa mendatang merupakan sejauh mungkin mengatasi masalah dan kendala yang sampai sejauh ini belum mampu diselesaikan secara tuntas sehingga memerlukan perhatian yang lebih serius. Satu hal yang sangat kritis adalah bahwa meningkatnya produksi pertanian (agribisnis) atau output selama ini belum disertai dengan meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani secara signifikan dalam pengusaha pertanian kecilnya. Petani sebagai unit agribisnis terkecil belum mampu meraih nilai tambah yang rasional sesuai skala pengusaha pertanian kecil terpadu (integrated farming system). Oleh karena itu persoalan membangun kelembagaan (institution) di bidang pertanian dalam pengertian yang luas menjadi semakin penting, agar petani mampu melaksanakan kegiatan yang tidak hanya menyangkut on farm bussiness saja, akan tetapi juga terkait erat dengan aspek-aspek off farm agribussinessnya (Tjiptoherijanto, 1997).
Disatu sisi, persoalan dana  yang dibutuhkan dalam pertanian di Indonesia tergolong mahal. Ragam pupuk, pestisida, dan benih unggul hampir keseluruhannya merupakan barang impor sehingga biaya pengadaannya bagi petani kita terasa mahal. Lain dari pada itu, harga jual pasca panenpun acapkali tidak berpihak bagi mereka. Jumlah yang harus dikeluarkan dalam produksi pertanian tidak sebanding dengan harga jual pasca panen yang mengakibatkan petani kita kian terpuruk. Akibatnya, petani kita tidak pernah bertahan pada suatu komoditas tani tertentu melainkan mencoba seluruh komoditas meskipun pengetahuannya untuk itu belum memadai.
Di Indonesia pula, masih sangat kecil sekali Usaha tani, sehingga menyebabkan kurangnya efisien produksi. Hal-hal yang harus ditempuh untuk mengatasi hal tersebut yaitu melalui pendekatan kerja kepada kelompok  Pendekatan kerja ini adalah salah satu metode untuk meningkatkan segi produktivitas dan kualitas pertanian, namun kembali lagi jika kita melihat kemampuan petani untuk membiayai pengusaha pertanian kecilnya sangat terbatas sehingga produktivitas yang dicapai masih di bawah produktivitas potensial. Mengingat keterbatasan petani dalam permodalan tersebut dan rendahnya aksesibilitas terhadap sumber permodalan formal, maka dilakukan pengembangan dan mempertahankan beberapa penyerapan input produksi biaya rendah (Low cost production) yang sudah berjalan ditingkat petani. Selain itu, penanganan pasca panen dan pemberian kredit lunak serta bantuan langsung dari masyarakat kepada petani sebagai pembiaayan usaha tani memang sudah sepantasnya terlaksana
Produktifitas tenaga kerja yang relatif rendah (productive and remmunerative employment) merupakan akibat keterbatasan teknologi, keterampilan untuk pengelolaan sumberdaya yang effisien. Sebaiknya dalam pengembangan komoditas pengusaha pertanian kecil diperlukan perbaikan dibidang teknologi. Seperti contoh teknologi budidaya, teknologi penyiapan sarana produksi terutama pupuk dan obat-obatan serta pemacuan kegiatan diversifikasi usaha yang tentunya didukung dengan ketersediaan modal (Fadholi, 1981).
Permasalahan sosial yang juga menjadi masalah pengusaha pertanian kecil di Indonesia yaitu masalah-masalah pembangunan pertanian di negara-negara yang sedang berkembang bukan semata-mata karena ketidaksiapan petani menerima inovasi, tetapi disebabkan oleh ketidakmampuan perencana program pembangunan pertanian menyesuaikan program-program itu dengan kondisi dari petani-petani yang menjadi “klien” dari program-program tersebut. Kemiskinan adalah suatu konsep yang sangat relatif, sehingga kemiskinan sangat kontekstual. Agar bantuan menjadi lebih efektif untuk memperkuat perekonomian petani-petani miskin, pertama-tama haruslah menemukan di mana akar permasalahan itu terletak, disamping akar permasalahan itu sendiri (Kasryno, 1984).
Untuk mengatasi dinamika permasalahan pertanian di Indonesia, maka perlu diperhatikan kembali faktor- faktor yang dapat mendukung keberhasilan pengembangan dan pembangunan pertanian, terutama aspek sumberdaya, baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia (petani), dan aspek kelembagaan. Teroboson inovatif dalam upaya mengembalikan kembali kesuburan tanah dan produktifitas harus dilakukan. Pada saat ini ada harapan sebagai solusi terbaik bagi pertanian di Indonesia dalam peningkatan hasil produksi yaitu melalui pola pertanian ekonomis berbasis kerakyatan tanpa meninggalkan kearifan lokal.
Metode ini dikembangkan yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas pertanian yang ramah lingkungan dan tidak meninggalkan kearifan lokal dengan pendekatan secara internal ke masyarakat desa yang mayoritas penduduknya adalah petani kecil. Kerakyatan disini artinya sama dengan community development, yaitu sebagai suatu penggunaan berbagai pendekatan dan teknik dalam suatu program tertentu pada masyarakat setempat sebagai kesatuan tindakan dan mengutamakan perpaduan antara bantuan yang berasal dari luar dengan keputusan dan upaya masyarakat yang terorganisasi.
Pendekatan internal akan sangat memantau masalah apa saja yang dialami oleh petani kecil mulai dari masalah diladang mereka hingga masalah internal keluarga petani kecil yang mungkin sangat bermaslah dalam keadaan ekonominya. Untuk pendampingan teknik, pola pertanian ekonomis mempunyai beberapa prinsip dasar diantaranya pemberian pupuk organic yang ramah lingkungan serta ekonomis, peningkatan pertumbuhan akar tanaman dengan pengaturan pola penanaman padi yaitu dengan jarak yang renggang, penggunaan bibit tunggal tanpa dilakukan perendaman lahan persawahan. Pemilihan pengembangan pola ekonomis untuk menghasilkan tananam yang unggul berdasarkan pertimbangan beberapa hal berikut :
Dalam aspek lingkungan yang baik dengan tidak digunakannya pupuk dan pestisida kimia yang harus beli di gantikan dengan pupuk organik dari alam, serta menggunakan sedikit air (tidak direndam) sehingga terjadi penghematan dalam penggunaan air. Dalam aspek kesehatan yang baik yaitu tidak tertinggalnya residu kimia dalam padi/beras akibat dari pupuk/pestisida kimia juga terjaganya kesehatan para petani karena terhindar dari menghirup uap racun dari pestisida kimia.
Serta produktifitas yang tinggi sebagai hasil dari diterapkannya prinsip penanaman yang optimal. untuk lahan yang sudah mulai pulih kesuburan tanah dan ekosistem sawahnya, hasil yang diperoleh. berkualitas yang tinggi karanen berbasis pada organik , beras organik (organic rice) yang juga merupakan beras sehat (healthy rice) selain tidak mengandung residu kimia juga aman dikonsumsi oleh para penderita diabet, penyakit jantung, hipertensi dan beberapa penyakit lainnya.
Dan hemat penggunaan air. Kebutuhan air hanya 20-30% dari kebutuhan air untuk cara konvensional, memulihkan kesehatan dan kesuburan tanah, serta mewujudkan keseimbangan ekologi tanah, membentuk petani mandiri yang mampu meneliti dan menjadi ahli di lahannya sendiri. Tidak tergantung pada pupuk dan pertisida kimia buatan pabrik yang semakin mahal dan terkadang langka. Hasil panen pada metode ekonomis pada musim pertama tidak jauh berbeda dengan hasil sebelumnya (metode konvensional) dan terus meningkat pada musim berikutnya sejalan dengan meningkatnya bahan organic dan penurunan bahan an-organk  dan kesehatan tanah.

PENUTUP
Kesimpulan yang dapat ditarik dari paper ini adalah:
Di Indonesia, petani kecil dikategorikan sebagai usaha tani kecil karena mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
·           Berusahatani dalam lingkungan tekanan penduduk lokal yang meningkat
·           Mempunyai sumberdaya terbatas sehingga menciptakan tingkat hidup yang rendah
·           Bergantung seluruhnya atau sebagian kepada produksi yang subsisten
·           Kurang memperoleh pelayanan kesehatan, pendidikan dan pelayanan lainnya

DAFTAR PUSTAKA
Adjid, D.A. 2001. Membangun Pertanian Modern. Yayasan Pengembangan Sinar Tani, Jakarta.
Badan Pusat Statistk. Beberapa tahun. Statistik Indonesia, BPS. Jakarta.
Basri.Y.Z,2003,pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pedesaan,dalam Usahawan Indonesia No30/TH.XXII maret 2003, Lembaga Menajemen FE-UI, Jakarta
Christenson, James A. and Jerry W. Robinson, Jr. 1989. Community Development in Perpective. Iowa State University Press/Ames. United State of America.
Fadholi, 1981'. Ilmu ilaaha Tani, Penebar Swadaya ,Surabaya
Kasryno, Faisal, 1984. Prospek Pembangunan Ekonomi Perdesaan Indonesia,. Yayasan Obor Indonesia. jakarta
Tjiptoherijanto,Prijono,1997. Migrasi, Urbanisasi dan Pasar Kerja di Indonesia, Penerbit Universitas Indonesia Press. Jakarta


Tidak ada komentar:

Posting Komentar