Konsumsi susu di Indonesia masih
sangat kurang dibanding negara lainnya, banyak faktor yang melatarbelakangi
mengapa susu kurang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia.
Faktor tersebut mulai dari kurangnya asumsi pentingnya susu bagi tubuh manusia demi peningkatan kualitas SDM indonesia, mahalnya susu yang beredar di pasar, anggapan mewahnya konsumsi susu bagi masyarakat kurang mampu, dan rendahnya budaya minum susu dalam konsumsi makanan harian.
Faktor tersebut mulai dari kurangnya asumsi pentingnya susu bagi tubuh manusia demi peningkatan kualitas SDM indonesia, mahalnya susu yang beredar di pasar, anggapan mewahnya konsumsi susu bagi masyarakat kurang mampu, dan rendahnya budaya minum susu dalam konsumsi makanan harian.
Terdapat pula faktor yang membuat
produksi susu sapi masih sangat rendah, diantaranya yaitu harga penjualan susu
sapi yang tidak sebanding dengan pakan yang harus diberikan dari peternak,
lebih banyaknya permintaan daging sapi dan membuat harga daging sapi dipasaran
menjadi melonjak naik dari sebelumnya, yang akibatnya pengalihan sektor
peternak dari ternak sapi perah menjadi ternak sapi pedaging ataupun sapi perah
dipotong dagingnya untuk dijual dipasar. Dari permasalahan tersebut terdapat Inti
permasalahan yaitu terfokus pada peran dan kebijakan yang dikeluarkan oleh
pemerintah, kementrian perdagangan yang memutuskan untuk melakukan impor susu
sapi dari beberapa negara yang membuat
kurangnya pertahanan perdagangan sektor peternakan. Dimana harga susu sapi
olahan impor jauh lebih murah dibanding susu sapi olahan lokal yang harganya
3-5 kali lipat dari susu segar yang berasal dari tangan peternak. Hal ini
membuat keterpurukan peternak dan industri pengolah susu sapi lokal yang kalah
saing dengan susu sapi impor.
Konsumsi susu di Indonesia sangat
rendah dan menempati posisi terendah di negara-negara Asia. Konteks budaya
minum susu dalam konsumsi makanan harian, hanya 20% saja orang rutin meminum
susu. Bila dihitung konsumsi susu per
kapita masyarakat Indonesia masih rendah, yaitu 13.5 kg/kapita/tahun atau
setara dengan 6 liter/kapita/tahunnya atau 32 gelas susu/kapita/tahunnya.
Padahal idealnya adalah konsumsi susu 100 liter/kapita/ tahun, hal ini
menandakan bahwa terdapat total 150 juta
penduduk Indonesia tidak mengkonsumsi susu. Hal inilah yang penyebab utama dari
isu kualitas gizianak-anak Indonesia yang rendah.
Produksi Susu Segar Dalam Negeri
(SSDN) hanya mampu memenuhi 30% susu segar dan selebihnya yaitu 70% susu segar
adalah hasil impor yang dibutuhkan untuk konsumsi dalam negeri. Peran dari
kementrian perdagangan perlu dikaji terkait impor susu yang setiap tahunnya
meningkat, hal ini yang sangat menentukan peran peternak yang semakin terpuruk.
Adapun rendahnya sektor kepemilikan
ternak di Indonesia, yang rata-rata hanya memiliki 2-4 ekor sapi/peternak.
Indonesia punya 100.000 Peternak Tradisionil setara dengan 500 ribu Sapi
Perah. 60% Sapi Perah hanya ada di
Pasuruan, Malang, Boyolali dan Pangalengan. Kebanyakan sektor peternakan
terdapat di Pulau Jawa, padahal jika ditinjau luar Pulau Jawapun memiliki
potensi yang tidak kalah menjanjikan. Namun permasalahannya hanya pada
ketersediaan sektor lahan pada ketinggian tertentu yang cocok untuk
mengembangkan sapi perah.
Produksi Susu Nasional hanya 48%
dari kebutuhan semestinya. 17% diserap 36 Perusahaan Lokal, 31% diserap oleh 4
Perusahaan Global. Kualitas susu nasional hanya terserap 21%. Produksi susu
nasional masih berkutat pada kendala Hygenies & Teknologi pengolahan yang
Tradisionil (Lack). Rendahnya kapasitas produksi (Volume & Kontinuitas).
Lemahnya permodalan, Value Chain Mangement, Teknologi & IT.
Wacana susu sapi sebenarnya akan
lebih cepat terealisasi jika terdapat dorongan dari peran kebijakan pemerintah
agar tetap melindungi para peternak lokal dimana tidak lebih mementingkan susu
sapi impor. Dan juga terdapat pemberian nilai yang sebanding antara produksi
dan harga yang didapat bila dijual dipasaran. Apalagi ditunjang peran penduduk
dengan perbanyak konsumsi susu sapi disetiap harinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar