animasi bergerak gif
IN YOUR EYES: Swasembada Susu Sapi 2020, sekedar wacana atau akan terlaksana?

Minggu, 22 Juni 2014

Swasembada Susu Sapi 2020, sekedar wacana atau akan terlaksana?



            Konsumsi susu di Indonesia masih sangat kurang dibanding negara lainnya, banyak faktor yang melatarbelakangi mengapa susu kurang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia.
Faktor tersebut mulai dari kurangnya asumsi pentingnya susu bagi tubuh manusia demi peningkatan kualitas SDM indonesia, mahalnya susu yang beredar di pasar, anggapan mewahnya konsumsi susu bagi masyarakat kurang mampu, dan rendahnya budaya minum susu dalam konsumsi makanan harian.
            Terdapat pula faktor yang membuat produksi susu sapi masih sangat rendah, diantaranya yaitu harga penjualan susu sapi yang tidak sebanding dengan pakan yang harus diberikan dari peternak, lebih banyaknya permintaan daging sapi dan membuat harga daging sapi dipasaran menjadi melonjak naik dari sebelumnya, yang akibatnya pengalihan sektor peternak dari ternak sapi perah menjadi ternak sapi pedaging ataupun sapi perah dipotong dagingnya untuk dijual dipasar. Dari permasalahan tersebut terdapat Inti permasalahan yaitu terfokus pada peran dan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, kementrian perdagangan yang memutuskan untuk melakukan impor susu sapi dari beberapa negara  yang membuat kurangnya pertahanan perdagangan sektor peternakan. Dimana harga susu sapi olahan impor jauh lebih murah dibanding susu sapi olahan lokal yang harganya 3-5 kali lipat dari susu segar yang berasal dari tangan peternak. Hal ini membuat keterpurukan peternak dan industri pengolah susu sapi lokal yang kalah saing dengan susu sapi impor.
            Konsumsi susu di Indonesia sangat rendah dan menempati posisi terendah di negara-negara Asia. Konteks budaya minum susu dalam konsumsi makanan harian, hanya 20% saja orang rutin meminum susu.  Bila dihitung konsumsi susu per kapita masyarakat Indonesia masih rendah, yaitu 13.5 kg/kapita/tahun atau setara dengan 6 liter/kapita/tahunnya atau 32 gelas susu/kapita/tahunnya. Padahal idealnya adalah konsumsi susu 100 liter/kapita/ tahun, hal ini menandakan bahwa terdapat total  150 juta penduduk Indonesia tidak mengkonsumsi susu. Hal inilah yang penyebab utama dari isu kualitas gizianak-anak Indonesia yang rendah.
            Produksi Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) hanya mampu memenuhi 30% susu segar dan selebihnya yaitu 70% susu segar adalah hasil impor yang dibutuhkan untuk konsumsi dalam negeri. Peran dari kementrian perdagangan perlu dikaji terkait impor susu yang setiap tahunnya meningkat, hal ini yang sangat menentukan peran peternak yang semakin terpuruk.
            Adapun rendahnya sektor kepemilikan ternak di Indonesia, yang rata-rata hanya memiliki 2-4 ekor sapi/peternak. Indonesia punya 100.000 Peternak Tradisionil setara dengan 500 ribu Sapi Perah.  60% Sapi Perah hanya ada di Pasuruan, Malang, Boyolali dan Pangalengan. Kebanyakan sektor peternakan terdapat di Pulau Jawa, padahal jika ditinjau luar Pulau Jawapun memiliki potensi yang tidak kalah menjanjikan. Namun permasalahannya hanya pada ketersediaan sektor lahan pada ketinggian tertentu yang cocok untuk mengembangkan sapi perah.
            Produksi Susu Nasional hanya 48% dari kebutuhan semestinya. 17% diserap 36 Perusahaan Lokal, 31% diserap oleh 4 Perusahaan Global. Kualitas susu nasional hanya terserap 21%. Produksi susu nasional masih berkutat pada kendala Hygenies & Teknologi pengolahan yang Tradisionil (Lack). Rendahnya kapasitas produksi (Volume & Kontinuitas). Lemahnya permodalan, Value Chain Mangement, Teknologi & IT.
            Wacana susu sapi sebenarnya akan lebih cepat terealisasi jika terdapat dorongan dari peran kebijakan pemerintah agar tetap melindungi para peternak lokal dimana tidak lebih mementingkan susu sapi impor. Dan juga terdapat pemberian nilai yang sebanding antara produksi dan harga yang didapat bila dijual dipasaran. Apalagi ditunjang peran penduduk dengan perbanyak konsumsi susu sapi disetiap harinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar