animasi bergerak gif
IN YOUR EYES: FEED ADDITIVE

Minggu, 07 Desember 2014

FEED ADDITIVE

Definisi Feed Additive
            Feed additive merupakan bahan pakan tambahan yang diberikan kepada ternak melalui pencampuran pakan ternak. Bahan tersebut merupakan pakan pelengkap yang bukan zat makanan.
Penambahan feed additive dalam pakan bertujuan untuk mendapatkan pertumbuhan ternak yang optimal. Feed additive ada dua jenis yaitu feed additive alami dan sintetis (Wahju, 2004).
            Menurut Ravindran (2012), feed additive dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu nutritive feed additive dan non nutritive feed additive. Nutritive feed additive ditambahkan ke dalam ransum untuk melengkapi atau meningkatkan kandungan nutrien ransum, misalnya suplemen vitamin, mineral, dan asam amino. Non nutritive feed additive tidak mempengaruhi kandungan nutrien ransum, kegunaannya tergantung pada jenisnya, antara lain untuk meningkatkan palatabilitas (flavoring / pemberi rasa, colorant / pewarna), pengawet pakan (antioksidan), penghambat mikroorganisme patogen dan meningkatkan kecernaan nutrien (antibiotik, probiotik, prebiotik), anti jamur, membantu pencernaan sehingga meningkatkan kecernaan nutrien (acidifier, enzim).

Jenis-jenis Feed Additive
            Feed additive yang bersifat nutritif antara lain adalah suplemen mineral, yang mencakup major mineral dan trace mineral. Mineral dapat berasal dari bahan organik, misalnya batu kapur (limestone), grit cangkang kerang, grit cangkang telur. Mineral organik tidak boleh digunakan melebihi 3% dalam ransum. Mineral dapat juga berasal dari bahan anorganik, misalnya dikalsium fosfat, garam dapur (NaCl), defluorinated phosphate, trikalsium fosfat, sodium bikarbonat (Na2CO3) dalam bentuk baking soda dengan dosis 0,2 – 0,3% dalam ransum. Trace mineral seperti Cu, Zn, Fe, Mn, Co dibutuhkan hanya sedikit, yaitu 0,01% dalam ransum. Suplemen mineral dibutuhkan sebanyak 0,05% dalam ransum. Asam amino esensial (L-lisin, DL-metionin, L-treonin, L-triptofan) dapat ditambahkan dalam ransum untuk memenuhi keseimbangan asam amino (Ravindran, 2012).
            Penggunaan non nutritive feed additive umumnya tidak lebih dari 0,05% dari ransum. Jenis-jenisnya antara lain yaitu pengikat pellet (bentonit, hemiselulosa, guar meal); pemberi aroma/ flavoring agent; enzim (xylanase, ß-glukanase, fitase); antibiotika; anti jamur (natrium propionat, asam propionat, gentian violet, nistatin);  koksidiostat untuk mencegah koksidiosis (amprolium, bithionol, polystat, zoalin, nitrofurazon, furazolidon); anti cacing (piperazin, phenothiazin, dichlorophen); antioksidan (ethoxyquin, BHT, BHA) untuk mencegah ketengikan oksidatif dari lemak yang merusak vitamin A, E, dan D; pewarna (karotenoid) untuk meningkatkan pigmentasi pada ayam broiler dan kuning telur; serta bahan-bahan pemicu metabolisme (zat thyroaktif) seperti kasein dan iodium (Wahju, 2004).
            Sebagai bahan pengganti antibiotik, digunakan bahan-bahan aditif pakan seperti probiotik, prebiotik, asam organik, herbal, dan protein antimikrobial. Probiotik digunakan untuk meningkatkan populasi bakteri menguntungkan dalam saluran pencernaan seperti lactobacilli dan streptococci. Prebiotik seperti FOS (frukto oligosakarida) dan MOS (mannan oligosakarida) digunakan untuk mencegah penempelan dan pertumbuhan bakteri patogen di saluran pencernaan, sebagai nutrien bagi bakteri menguntungkan. Asam organik seperti asam propionat dan asam format digunakan sebagai acidifier, yaitu menurunkan pH saluran pencernaan sehingga merangsang aktivitas enzim pencernaan dan mencegah pertumbuhan mikroorganisme patogen. Herbal seperti rempah-rempah, minyak esensial, ekstrak tumbuhan, madu dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme patogen, meningkatkan imunitas, merangsang aktivitas enzim pencernaan. Protein antimikrobial seperti lisozim, laktasin F, laktoferrin, α-laktalbumin dapat mencegah pertumbuhan mikroba patogen (Ravindran, 2012).
Feed Additive
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya feed additive merupakan bahan makanan tambahan pelengkap yang diberikan dengan beberapa tujuan diantaranya :
  • Memperbaiki kondisi fisik ransum, terutama yang dibuat pellet, baik dari segi warna maupun tekstur ransum. Contohnya ialah bentonit. Warna dan tekstur ransum yang baik akan meningkatkan feed intake (nafsu makan, red) Bentonit mampu membantu memperbaiki tekstur pellet
  • Memberikan aroma atau bau khas dari ransum (flavoring agent) sehingga palatabilitas atau rasa kesukaan terhadap ransum meningkat
  • Memperbaiki atau meningkatkan proses pencernaan dan penyerapan zat nutrisi dari ransum. Beberapa feed additive yang berperan dalam hal ini ialah :

1. Enzim
Enzim merupakan katalisator yang berperan mempercepat suatu reaksi kimiawi. Enzim phytase mulai banyak digunakan peternak yang berperan memecah ikatan phytate pada bahan ransum nabati, seperti jagung sehingga ketersediaan fosfor bisa meningkat. Kerja enzim ini akan optimal apabila jenis enzim sesuai dengan substratnya, kondisi lingkungan dan kesesuaian dosisnya.
2. Antibiotik
Zinc bacitrasin yang terdapat dalam Top Mix mampu bekerja secara selektif menekan pertumbuhan bakteri usus yang menghambat proses pencernaan dan penyerapan ransum. Suplementasi antibiotik dalam ransum juga mengatasi penyakit yang timbul di saluran pencernaan.

3. Mold inhibitor dan toxin binder
Kondisi lingkungan Indonesia yang beriklim tropis terbukti mendukung pertumbuhan jamur, terlebih lagi jika kadar air ransum melebihi standar (> 14%). Oleh karena itu penambahan mold inhibitor yang berperan menghambat pertumbuhan jamur diperlukan, terutama saat musim penghujan. Asam propionat merupakan contoh mold inhibitor yang sering digunakan.
Saat jamur telah mengkontaminasi maka bisa dipastikan bahan baku ransum telah tercemar racun jamur. Jamur yang mencemari ransum bisa dengan mudah dimatikan namun tidak demikian dengan racun jamur yang tidak sulit dihilangkan baik melalui perlakuan fisik (pemanasan), kimia atau biologi. Oleh karena itu untuk menekan atau menghilangkan pengaruh negatif dari racun jamur ini perlu ditambahkan toxin binder (pengikat toksin). Contoh toxin binder ialah zeolit, hydrate sodium calcium aluminosilicate (HSCAS) atau serat dari kulit gandum
4. Koksidiostat
Sulfaquinoxalin, amprolium, dan oxytetrasiklin merupakan contoh zat koksidiostat yang sering dicampurkan dalam ransum jadi. Tujuannya ialah untuk menekan pertumbuhan koksidia yang terdapat dalam ransum. Kita hendaknya mengetahui jenis koksidiostat yang ditambahkan dalam ransum sehingga saat ayam kita terserang koksidiosis kita bisa memberikan obat yang sesuai, yang tidak memicu terjadinya resistensi
5. Antioksidant
Lemak yang terkandung dalam ransum dapat mengalami reaksi oksidatif sehingga menimbulkan ketengikan. Akibatnya palatabilitas ransum menurun. Selain itu reaksi oksidatif ini juga dapat mengakibatkan kerusakan vitamin larut lemak (A, D, E dan K). Guna mencegah ketengikan tersebut bisa ditambahkan antioksidan, seperti butylated hydrosi toluen (BHT) atau ethoxyquin. Di dalam Top Mix juga mengandung santoquin yang berperan sebagai antioksidan. Oleh karenanya penambahanTop Mix akan mampu menekan terjadinya oksidatif.

Daftar Pustaka
Wahju, J. 2004. Ilmu Nutrisi Unggas. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Ganiswara, S.G., R. Setiabudy, dan F.D. Suyatno, 1995. Farmakologi dan Terapi Edisi IV. Editor Purwantiasrtuti dan Nafrialdi. Universitas Indonesia. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar