Laporan praktikum ke : 2
|
Hari/tanggal : 10 maret 2015
|
Mikrobiologi nutrisi
|
Nama asisten :
1. Gusti
A. Gultom D24080102
2. Fitria
Nur Aini D24110002
3. Afdola
R. N. D24110041
4. M.
Ridho Prasetyo D24110063
|
Wungu Endah Cahyani
D24130061
DEPARTEMEN
ILMU NUTRISI & TEKNOLOGI PAKAN
FAKULTAS
PETERNAKAN
INSTITUT
PERTANIAN BOGOR
2015
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sterilisasi
dalam mikrobiologi adalah suatu proses untuk mematikan semua organisme yang
terdapat pada atau di dalam suatu benda. Ketika untuk pertama kalinya melakukan
pemindahan biakan bakteri secara aseptik, sesungguhnya hal itu telah
menggunakan salah satu cara sterilisasi, yaitu pembakaran. Namun, kebanyakan
peralatan dan media yang umum dipakai di dalam pekerjaan mikrobiologi akan
menjadi rusak bila dibakar.
Cara-cara sterilisasi dan desinfeksi
dapat dilakukan dengan cara yaitu melalui pembersihan, sinar matahari, sinar ultraviolet, sinar-x,
dan sinar-gamma, pendinginan, dan pemanasan. Macam-macam cara sterilisasi
dengan pemanasan yaitu, pemanasan dalam nyala api, pemanasan dengan udara panas
(dry heat oven), merendam dalam air mendidih, pemanasan dengan uap air yang mengalir,
dengan uap air yang ditekan, dan cara sterilisasi benda-benda yang tidak tahan
suhu tinggi, misalnya pasteurisasi, tyndalisasi, dengan pengeringan, dengan
penyaringan (filtrasi), dan dengan menggunakan zat kimia (desinfektan).
Teknik
aseptis sangat penting dalam pengerjaan mikrobiolgi yang memerlukan ketelitian
dan keakuratam disamping kesterilan yang harus selalu dijaga agar terbebas dari
kontaminan yang dapat mencemari. Tujuan utama dilakukannya sterilisasi
dan penerapan kerja aseptik adalah untuk meminimalisir atau meniadakan potensi
kontaminasi dari mikroba yang tidak diinginkan. Kontaminasi yang timbul dari
mikroba yang tidak diharapkan dikhawatirkan dapat menghambat aktivitas dari
mikroba yang ditumbuhkan atau dapat membahayakan keselamatan dari pelaksana
kegiatan tersebut.
Tujuan
Praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui cara
sterilisasi yang tepat untuk
mengetahui teknik kerja aseptik.
TINJAUAN
PUSTAKA
kontaminasi
Kontaminasi merupakan suatu masalah yang
sangat berbahaya, apalagi kalau sampai terjadi di dalam tubuh. Kontaminasi
sangat mudah terjadi kalau bekerja dengan sumber radiasi terbuka, misalnya
berbentuk cair, serbuk, atau gas. Kontaminasi adalah terjadinya pencemaran oleh
kontaminan. Komponen yang menjadi penyebab kontaminasi sangat beragam, baik
yang berupa benda mati atau mahluk hidup. Kotoran dan senyawa kimia merupakan
benda mati yang berperan sebagai kontaminan, sedangkan mikroba merupakan
kontaminan berupa mahluk hidup. Kontaminasi sering terjadi dalam berbagai
tahapan kegiatan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi
terjadinya kontaminan adalah sterilisasi, baik terhadap bahan, peralatan atau
pekerja yang terlibat (Hadioetomo, 1993).
Dekontaminasi
Dekontaminasi
adalah proses menghilangkan atau membunuh mikroorganisme sehingga objek aman
untuk ditangani, tujuannya untuk melindungi praktikan yang melakukan percobaan
menggunakan bakteri atau semacamnya. Tiga metode umum dalam proses dekontaminasi
yaitu sterilisasi, desinfeksi dan sanitasi. Sterilisasi yaitu proses atau
kegiatan membebaskan suatu bahan atau benda dari semua bentuk kehidupan. Pada
prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik,
fisik dan kimiawi. Sterilisai secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu
saringan yang berpori sangat kecil (0,22 mikron atau 0,45 mikrob) sehingga
mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi
bahan yang peka panas, misalnya larutan enzim dan antibiotik. Sterilisasi
secara fisik dilakukan dengan cara pemanasan atau penyinaran. Pemanasan dapat
dilakukan dengan cara pemijaran, pemanasan kering, menggunakan uap air panas,
dan menggunakan uap air panas bertekanan (Agalloco, 2008).
Sterilisasi
Sterilisasi adalah setiap proses kimia, fisika, dan
mekanik yang membunuh semua sel kehidupan, terutama mikroorganisme (Waluyo,
2005). Sterilisasi adalah pemusnahan atau eliminasi semua mikroorganisme,
termasuk spora bakteri, yang sangat resisten. Sterilisasi
yaitu suatu proses atau kegiatan membebaskan bahan atau benda dari semua bentuk
kehidupan. Sterilisasi juga dapat diartikan sebagai proses untuk membunuh semua
jasad renik yang ada, sehingga jika ditumbuhkan di dalam suatu medium tidak ada
lagi jasad renik yang dapat berkembang (Levinson, 2008). Proses sterilisasi dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu
penggunaan panas(pemijaran dan udara panas), penyaringan, penggunaan bahan
kimia (etilena oksida, asam perasetat, formaldehyde dan glutarat aldehida
alkalin) (Hadioetomo,1993).
Pada prinsipnya
sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan
kimiawi. Sterilisasi mekanik dilakukan secara filtrasi, sterilisasi fisik
dilakukan dengan pemanasan dan penyinaran, dan untuk sterilisasi kimiawi dapat
dilakukan menggunakan senyawa disinfektan (Levinson,
2008). Prinsip dasar sterilisasi eksplan adalah mensterilkan eksplan dari
berbagai mikroorganisme, tetapi eksplannya tidak ikut mati. Setiap tanaman
memerlukan perlakuan khusus sehingga sebelum mengulturkan tanaman baru perlu
melakukan percobaan sterilisasi (Sandra, 2003). Beberapa
contoh mikroba yang dapat menyebabkan kontaminasi seperti Salmonella sp., E. coli, S. aureus, Bacillus subtilis, atau jamur Aspergillus
flavus yang sering mengontaminasi bahan pakan.
Sterilisasi Mekanik
Sterilisasi
mekanik, biasa dilakukan dengan filtrasi. Filtrasi disini menggunakan suatu
saringan yang berpori kecil sehingga
mikroba dapat tertahan pada saringan tersebut. Ukuran nominal pori penyaring
0,2 μm atau kurang dan penyaring dibuat dari berbagai jenis bahan seperti
selulosa asetat, selulosa nitrat, florokarbonat, polimer akrilik, polikarbonat,
poliester, polivinil klorida, vinil, nilon, politef, dan berbagai tipe bahan
lain termasuk memban logam.
Sterilisasi Fisik
Pada
sterilisasi fisik dapat dilakukan dengan 2 sistem, yaitu system pemanasan dan
penyinaran. System pemanasan sendiri terdiri dari 4 macam, yaitu: Pemijaran (dengan api langsung):
membakar alat pada api secara langsung, contoh alat : jarum inokulum, pinset,
batang L, dll. Panas
kering: sterilisasi dengan oven kira-kira 60-1800C. Sterilisasi
panas kering cocok untuk alat yang terbuat dari kaca misalnya erlenmeyer,
tabung reaksi dll. Uap air
panas : konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan yang mengandung air lebih tepat
menggungakan metode ini supaya tidak terjadi dehidrasi. pemanasan
basah : menggunakan autoklaf.
Sterilisasi Kimia
Sterilisasi secara kimiawi biasanya menggunakan senyawa
disinfektan. Senyawa disinfektan yang biasa digunakan yaitu alcohol. Salah satu
kegunaan dari alcohol ini adalah untuk sterlisasi area tempat kerja. Pada saat
pemindahan bahan, kita juga harus mempertimbangkan faktor lingkungan yang ada.
Jika lingkungan tidak steril, maka bahan dapat terkontaminasi oleh bakteri atau
mikroorganisme yang ada di udara atau dilingkukan itu sendiri.
Teknik
Aseptis
Teknik
aseptis sangat penting dalam pengerjaan mikrobiologi yang memerlukan ketelitian
dan keakuratan disamping kesterilan yang harus selalu dijaga agar terbebas dari
kontaminan yang dapat mencemari. Populasi mikroba di alam sekitar kita sangat
besar dan komplek. Beratus-ratus spesies berbagai mikroba biasanya menghuni
bermacam-macam bagian tubuh kita, termasuk mulut, saluran pencernaan, dan
kulit. Sekali bersin terdapat beribu-ribu mikroorganisme sehingga diperlukan teknik
yang dapat meminimalisir seperti pengisolasian (Pelczar & Chan,1986).
Autoclave
Sterilisasi
basah biasanya dilakukan didalam autoklaf atau aterilisator uap yang mudah
diangkat dengan menggunakan uap air jenuh bertekanan pada suhu 1210C selama 15
menit. Cara pemanasan basah dapat membunuh jasad renik atau mikroorganisme
terutama karena panas basah dapat menyebabkan denaturasi protein, termasuk
enzim-enzim didalam sel (Fardiaz, 1992).
Autoclave adalah
alat untuk mensterilkan berbagai macam alat & bahan yang menggunakan
tekanan 15 psi (1,02 atm) dan suhu 1210C. Autoclave yang ada di laboratorium
terbagi menjadi dua yaitu yang digunakan untuk sterilisasi alat dan medium
(media) yang akan dipakai, serta yang digunakan untuk destruksi atau
sterilisasi kotor. Rongga di dalam autoclave tidak boleh terlalu penuh diisi
dengan benda-benda yang akan disterilisasikan agar dapat terjadi aliran uap
yang cukup baik. Sterilisasi basah adalah sterilisasi panas yang digunakan
bersama-sama dengan uap air.
Autoclave digunakan
sebagai alat sterilisasi uap dengan tekanan tinggi. Penggunaan autoclave untuk
sterilisasi, tutupnya jangan diletakan sembarangan dan dibuka-buka karena isi
botol atau tempat medium akan meluap dan hanya boleh dibuka ketika manometer
menunjukkan angka 0 serta dilakukan pendinginan sedikit demi sedikit. Medium
yang mengandung vitamin, gelatin atau gula, maka setelah sterilisasi medium
harus segera didinginkan. Cara ini untuk menghindari zat tersebut terurai.
Medium dapat langsung disimpan di lemari es jika medium sudah dapat dipastikan
steril (Dwidjoseputro, 1994).
MATERI DAN
METODE
Materi
Alat dan bahan
yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah aquades, botol bening, alkohol
70%, cawan petri, lampu spirtus, korek api, tissue, sprayer,
kertas, pipet, tabung reaksi, osse, kapas, dan plastik. Autoclave juga
dibutuhkan dalam praktikum kali ini untuk sterilisasi basah.
Metode
Tubuh praktikan dan meja tempat kerja mikrob
disemprot dengan menggunakan alkohol 70%. Alkohol yang disemprotkan di meja
dibiarkan beberapa saat kemudian diseka menggunakan tissue. Lampu spirtus yang
akan digunakan juga diseka menggunakan tissue yang telah dibasahi menggunakan
alkohol 70%. Osse yang akan digunakan untuk mengambil inokulan dipanasi di atas
lampu spirtus sampai merah menyala, setelah itu dimasukkan ke dalam tabung
reaksi yang berisi inokulan dengan tetap berada tidak jauh dari api. Mulut
tabung reaksi yang berisi inokulan dipanasi menggunakan api, baik sebelum
maupun sesudah digunakan. Osse yang telah digunakan dibakar lagi di atas api
sampai merah menyala. Tabung reaksi yang akan digunakan harus dipanasi bagian
mulutnya nenggunakan api, dapat menggunkan bantuan gegep kayu atau menggunakan
tangan secara langsung, kapas yang akan digunakan sebagai penutup tabung reaksi
juga harus dipanasi terlebih dahulu di sekitar api, begitu juga saat proses
penutupan. Cawan petri yang akan digunakan terlebih dahulu dipanaskan bagian
tepinya secara melingkar sampai hangat, kemudian seminim mungkin dibuka untuk
mengisikan media ke dalam cawan petri tersebut dengan tetap berada di dekat
api. Setelah selesai, cawan petri kemudian ditutup dan dipanaskan bagian
tepinya secara melingkar.
Sterilisasi
basah dapat dilakukan dengan membungkus alat-alat (cawan petri dan pipet)
menggunakan kertas lalu mengumpulkan alat-alat yang sejenis tersebut dalam satu
kantong plastik bening tahan panas. Alat-alat
tersebut, kemudian dimasukkan ke dalam autoclave otomatis dengan suhu 121oC,
tekanan 1 atm, dan disetting selama 15 menit. Autoclave akan berbunyi Setelah
15 menit, lalu bagian pemutar waktu diputar ke arah nol, dan ditunggu sampai
suhunya di atas nol sedikit baru dibuka tutup autoclavenya. Sterilisasi kering
dapat dilakukan dengan meletakkan alat-alat yang dibungkus tadi ke dalam oven.
PEMBAHASAN
Sterilisasi
dalam mikrobiologi berarti membebaskan tiap benda atau substansi dari semua
kehidupan dalam bentuk apapun. Untuk tujuan mikrobiologi dalam usaha
mendapatkan keadaan steril, mikroorganisme dapat dimatikan setempat oleh panas
(kalor), gas-gas seperti formaldehide, etilenoksida atau betapriolakton oleh
bermacam-macam larutan kimia; oleh sinar lembayung ultra atau sinar gamma.
Mikroorganisme juga dapat disingkirkan secara mekanik oleh sentrifugasi
kecepatan tinggi atau oleh filtrasi. Sterilisasi yaitu suatu proses atau kegiatan membebaskan bahan
atau benda dari semua bentuk kehidupan (Levinson, 2008).
Sterilisasi
Secara Fisik
Metode Incineration (Pemijaran /
Pembakaran langsung), cara ini terutama dipakai untuk
sterilisasi jarum ose dan sebagian yang terbuat dari platina atau khrom.
Caranya adalah dengan membakar alat-alat tersebut di atas api lampu spiritus
sampai pijar (merah padam). Hanya saja dalam proses pembakaran langsung ini alat-alat
tersebut lama kelamaan menjadi rusak. Keuntungan mikroorganisme akan hancur
semua (Hani, 2007).
Sterilisasi panas kering dilakukan
menggunakan oven pensteril (Hot Air Stelizer). Sterilisasi panas kering ini
tercapai dengan proses konduksi panas. Pada awalnya, panas diabsorbsi oleh
permukaan luar dari sebuah instrument dan kemudian dikirimkan ke lapisan
berikutnya. Pada akhirnya keseluruhan objek mencapai suhu yang di butuhkan
untuk sterilisasi. Mikrooragnisme mati pada saat penghancuran protein secara
lambat oleh panas kering. Proses sterilisasi panas kering berlangsung lebih
lama dari pada sterilisasi uap, karena kelembapan dalam proses sterilisasi uap
secara pasti mempercepat penetrasi uap dan memperpendek waktu yang di butuhkan
untuk membunuh mikroorganisme (Tietjen, 2004). Oleh karena itu metode ini memerlukan temperatur yang lebih
tinggi dan waktu yang lebih penjang, sterilisasi panas kering biasanya
ditetapkan pada temperatur 160-170oC dengan waktu 1-2 jam. Umumnya digunakan
untuk senyawa-senyawa yang tidak efektif untuk disterilkan dengan uap air,
seperti minyak lemak, minyak mineral, gliserin (berbagai jenis minyak),
petrolatum jelly, lilin wax dan serbuk yang tidak stabil dengan uap air. Metode
ini efektif untuk mensterilakan alat-alat gelas dan belah. Karena tingginya suhu yang
ditetapkan dalam sterilisasi panas kering, maka metode ini dapat digunakan
untuk alat-alat gelas yang membutuhkan keakuratan. Contohnya alat ukur dan
penutup karet atau plastik. Prinsipnya
adalah protein mikroba pertama-tama akan mengalami dehidrasi sampai kering.
Selanjutnya teroksidasi oleh oksigen dari udara sehingga menyebabkan mikroba
mati (Razuna, 2010).
Metode Pemanasan secara Intermittent (Terputus-putus
/ Uap Air Panas), John Tyndall (1877) dari hasil
penelitiannya menyatakan bahwa pada temperatur didih 100oC selama 1
jam tidak dapat membunuh semua mikroorganisme, tetapi bila air dididihkan
berulang-ulang sampai lima kali dan setiap air mendidih istirahat selama 1
menit akan sangat berhasil membunuh kuman. Hal ini disebabkan bahwa dengan
pemanasan intermitten, lingkaran hidup pembentukan spora dapat diputuskan
(Hani, 2007).
Metode Pemanasan dengan Uap Air
Bertekanan, prinsip-prinsip umum penguapan adalah sterilan yang
efektif karena uap paket adalah sebuah kendaraan energy termal yang sangat
efektif. Jenis ini jauh lebih efektif untuk mengangkut energy ke bahan yang
akan disterilisasi daripada udara panas (kering). Uap
adalah sterilan yang efektif karena lapisan luar mikroorganisme yang bersifat
protektif dan resistan dapat dilemahkan oleh uap, sehingga terjadi koagulasi
pada bagian dalam mikroorgnisme yang sensitive. Beberapa jenis kontaminan
tertentu, khususnya yang berlemak atau berminyak, dapat melindungi
mikroorganisme dari efek uap, sehingga mengganggu proses sterilisasi. Alasan
ini yang menekan kembali kepentingan mencuci bersih bahan-bahan sebelum proses
sterilisasi (Tietjen, 2004).
Sterilisasi uap harus memenuhi empat kondisi kontak yang memadai suhu
yang sangat tinggi, waktu yang tepat dan kelembababan yang memadai. Walaupun
seluruhnya perlu untuk terjadi sterilisasi, kegagalan sterilisasi klinik dan
rumah sakit sering disebabkan oleh kurangnya kontak uap atau kegagalan untuk
mencapai suhu yang memadai (Tietjen, 2004).
Sterilisasi Secara Kimia
Selain penguapan tekanan tinggi atau
sterilisasi panas kering sebagai alternative adalah sterilisasi kimia
(sterilisai dingin). Apabila objek harus disterilisasi, sedangkan bila
mempergunakan uap tekanan tinggi atau sterilisasi panas-kering akan merusak
objek tersebut atau apabila peralatan tidak tersedia, maka objek itu dapat
disterilkan secara kimia. Sejumlah disenfektan tingkat tinggi
akan membunuh endospora setelah paparan berkepanjangan (10-24 jam). Disenfektan
umum yang dapat digunakan untuk sterilisasi berlangsung dengan merendamnya
selama sekurang-kurangnya 10 jam dalam larutan glutaraldehid 2-4 % atau
setidaknya 24 jam dalam larutan formaldehid 8%. Glutaraldehid, seperti Cidex,
seringkali jarang tersedia dipasaran dan harganya sangat mahal, tetapi larutan
ini satu-satunya sterilan yang praktis untuk instrument tertentu, seperti
laparoskop yang tidak dapat dipanaskan. Baik glutaraldehid maupun formaldehid
membutuhkan penanganan khusus dan meninggalkan sisa pada instrument yang sudah
ditangani. Oleh karena itu membilas dengan air steril adalah suatu keharusan
apabila instrument itu hendak dijaga tetap steril. Juga apabila tidak dibilas sisa
ini akan menggangu (menyebabkan lengket) bagian geser laparoskop dan juga akan
memperkeruh lensa alat tersebut (Tietjen, 2004).
Walaupun lebih murah dari
glutaraldehid, larutan formaldehid lebih menyebabkan iritasi atas kulit, mata
dan saluran nafas serta diklasifikasikan sebagai potensial karsinogen. Apabila
menggunakan glutaraldehid atau formaldehid, pakailah sarung tangan untuk
menghindari percikan, membatasi waktu paparan dan gunakan kedua zat kimia hanya
pada area yang berventilasi baik. Karena
instrument ini tidak terbungkus setelah sterilisasi kimia, instrument ini harus
dipindahkan dan disimpan pada sebuah wadah steril dan tertutup (Tietjen, 2004).
Gambar 1. Sterilisasi Basah Cawan Petri

![]() |
Sterilisasi basah dapat dilakukan dengan membungkus alat-alat (cawan petri dan pipet) menggunakan kertas lalu mengumpulkan alat-alat yang sejenis tersebut dalam satu kantong plastik bening tahan panas. Alat-alat tersebut, kemudian dimasukkan ke dalam autoclave otomatis dengan suhu 121oC, tekanan 1 atm, dan disetting selama 15 menit. Autoclave akan berbunyi setelah 15 menit, lalu bagian pemutar waktu diputar ke arah nol, dan ditunggu sampai suhunya di atas nol sedikit baru dibuka tutup autoclavenya. Sterilisasi kering dapat dilakukan dengan meletakkan alat-alat yang dibungkus tadi ke dalam oven.
![]() |
![]() |
||
Gambar 2. Sterilisasi Pemijaran Untuk Membuat Inokulan
![]() |
Osse yang akan digunakan untuk mengambil inokulan dipanasi di atas lampu spirtus sampai merah menyala, setelah itu dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi inokulan dengan tetap berada tidak jauh dari api. Mulut tabung reaksi yang berisi inokulan dipanasi menggunakan api, baik sebelum maupun sesudah digunakan. Osse yang telah digunakan dibakar lagi di atas api sampai merah menyala. Tabung reaksi yang akan digunakan harus dipanasi bagian mulutnya nenggunakan api, dapat menggunkan bantuan gegep kayu atau menggunakan tangan secara langsung, kapas yang akan digunakan sebagai penutup tabung reaksi juga harus dipanasi terlebih dahulu di sekitar api, begitu juga saat proses penutupan.
KESIMPULAN
Teknik sterilisasi untuk menangani sampel
ataupun alat yang terkena kontaminasi.Teknik sterilisasi yang umum dilakukan
adalah dengan menggunakan panas kering dan panas basah. Sterilisasi dengan
panas kering dapat dilakukan dengan api spirtus, sedangkan panas basah
dilakukan dengan autoclave.Serta dapat mengetahui teknik kerja aseptik agar
tidak terjadi kesalahan saat pengamatan mikroorganisme sehingga dapat
meminimalisir kesalahan.
DAFTAR
PUSTAKA
Agalloco,
J. 2008, Validation of Pharmaceutical Processes (electronic version), USA : Informa
Healthcare Inc.
Dwidjoseputro,
D. 1994. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan.
Fardiaz.1992.
Teknik Kultur Jaringan. Bogor: Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman Pusat Antar
Universitas Bioteknologi IPB – Lembaga Sumberdaya Informasi IPB.
Hadioetomo,
R.S. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam
Praktek, Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium. Jakarta : Penerbit PT.
Gramedia Pustaka Utama.
Hani, Ahmad Ruslan. Handoko Riwidiko. 2007. Fisika Kesehatan. Mitra
Cendikia Press : Yogyakarta.
Levinson
W. 2008.Review of Medical Microbiology
& Imunology, Tenth Edition. New York : The McGraw-Hill Companies,
Inc.
Pelczar,M.
J. dan E. C. S. Chan. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta : UI Press.
Sandra, E. 2003.
Kultur Jaringan Anggrek Skala Rumah Tangga. Jakarta : AgroMedia Pustaka.
Tietjen,
Linda. Debora Bossemeyer. Noel Mc Intosh. 2004. Panduan Pencegahan Infeksi
untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan Sumber Daya Terbatas. Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawihardjo : Jakarta.
Waluyo,
L. 2005. Mikrobiologi Umum. Malang, UMM Press.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar