animasi bergerak gif
IN YOUR EYES: Laporan Praktikum MIKROBIOLOGI NUTRISI - STERILISASI

Rabu, 09 September 2015

Laporan Praktikum MIKROBIOLOGI NUTRISI - STERILISASI

Laporan praktikum ke : 2
Hari/tanggal : 10 maret 2015
Mikrobiologi nutrisi
Nama asisten :
1.    Gusti A. Gultom    D24080102
2.    Fitria Nur Aini       D24110002
3.    Afdola R. N.          D24110041
4.    M. Ridho Prasetyo D24110063




STERILISASI
Wungu Endah Cahyani
D24130061











DEPARTEMEN ILMU NUTRISI & TEKNOLOGI PAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015





PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sterilisasi dalam mikrobiologi adalah suatu proses untuk mematikan semua organisme yang terdapat pada atau di dalam suatu benda. Ketika untuk pertama kalinya melakukan pemindahan biakan bakteri secara aseptik, sesungguhnya hal itu telah menggunakan salah satu cara sterilisasi, yaitu pembakaran. Namun, kebanyakan peralatan dan media yang umum dipakai di dalam pekerjaan mikrobiologi akan menjadi rusak bila dibakar.
Cara-cara sterilisasi dan desinfeksi dapat dilakukan dengan cara yaitu melalui pembersihan, sinar matahari, sinar ultraviolet, sinar-x, dan sinar-gamma, pendinginan, dan pemanasan. Macam-macam cara sterilisasi dengan pemanasan yaitu, pemanasan dalam nyala api, pemanasan dengan udara panas (dry heat oven), merendam dalam air mendidih, pemanasan dengan uap air yang mengalir, dengan uap air yang ditekan, dan cara sterilisasi benda-benda yang tidak tahan suhu tinggi, misalnya pasteurisasi, tyndalisasi, dengan pengeringan, dengan penyaringan (filtrasi), dan dengan menggunakan zat kimia (desinfektan).
Teknik aseptis sangat penting dalam pengerjaan mikrobiolgi yang memerlukan ketelitian dan keakuratam disamping kesterilan yang harus selalu dijaga agar terbebas dari kontaminan yang dapat mencemari. Tujuan utama dilakukannya sterilisasi dan penerapan kerja aseptik adalah untuk meminimalisir atau meniadakan potensi kontaminasi dari mikroba yang tidak diinginkan. Kontaminasi yang timbul dari mikroba yang tidak diharapkan dikhawatirkan dapat menghambat aktivitas dari mikroba yang ditumbuhkan atau dapat membahayakan keselamatan dari pelaksana kegiatan tersebut.
Tujuan
Praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui cara sterilisasi yang tepat untuk mengetahui teknik kerja aseptik.


TINJAUAN PUSTAKA
kontaminasi
   Kontaminasi merupakan suatu masalah yang sangat berbahaya, apalagi kalau sampai terjadi di dalam tubuh. Kontaminasi sangat mudah terjadi kalau bekerja dengan sumber radiasi terbuka, misalnya berbentuk cair, serbuk, atau gas. Kontaminasi adalah terjadinya pencemaran oleh kontaminan. Komponen yang menjadi penyebab kontaminasi sangat beragam, baik yang berupa benda mati atau mahluk hidup. Kotoran dan senyawa kimia merupakan benda mati yang berperan sebagai kontaminan, sedangkan mikroba merupakan kontaminan berupa mahluk hidup. Kontaminasi sering terjadi dalam berbagai tahapan kegiatan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi terjadinya kontaminan adalah sterilisasi, baik terhadap bahan, peralatan atau pekerja yang terlibat (Hadioetomo, 1993).
Dekontaminasi
          Dekontaminasi adalah proses menghilangkan atau membunuh mikroorganisme sehingga objek aman untuk ditangani, tujuannya untuk melindungi praktikan yang melakukan percobaan menggunakan bakteri atau semacamnya. Tiga metode umum dalam proses dekontaminasi yaitu sterilisasi, desinfeksi dan sanitasi. Sterilisasi yaitu proses atau kegiatan membebaskan suatu bahan atau benda dari semua bentuk kehidupan. Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan kimiawi. Sterilisai secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0,22 mikron atau 0,45 mikrob) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misalnya larutan enzim dan antibiotik. Sterilisasi secara fisik dilakukan dengan cara pemanasan atau penyinaran. Pemanasan dapat dilakukan dengan cara pemijaran, pemanasan kering, menggunakan uap air panas, dan menggunakan uap air panas bertekanan (Agalloco, 2008).
Sterilisasi
Sterilisasi adalah setiap proses kimia, fisika, dan mekanik yang membunuh semua sel kehidupan, terutama mikroorganisme (Waluyo, 2005). Sterilisasi adalah pemusnahan atau eliminasi semua mikroorganisme, termasuk spora bakteri, yang sangat resisten. Sterilisasi yaitu suatu proses atau kegiatan membebaskan bahan atau benda dari semua bentuk kehidupan. Sterilisasi juga dapat diartikan sebagai proses untuk membunuh semua jasad renik yang ada, sehingga jika ditumbuhkan di dalam suatu medium tidak ada lagi jasad renik yang dapat berkembang (Levinson, 2008). Proses sterilisasi dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu penggunaan panas(pemijaran dan udara panas), penyaringan, penggunaan bahan kimia (etilena oksida, asam perasetat, formaldehyde dan glutarat aldehida alkalin) (Hadioetomo,1993).


Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan kimiawi. Sterilisasi mekanik dilakukan secara filtrasi, sterilisasi fisik dilakukan dengan pemanasan dan penyinaran, dan untuk sterilisasi kimiawi dapat dilakukan menggunakan senyawa disinfektan (Levinson, 2008). Prinsip dasar sterilisasi eksplan adalah mensterilkan eksplan dari berbagai mikroorganisme, tetapi eksplannya tidak ikut mati. Setiap tanaman memerlukan perlakuan khusus sehingga sebelum mengulturkan tanaman baru perlu melakukan percobaan sterilisasi (Sandra, 2003). Beberapa contoh mikroba yang dapat menyebabkan kontaminasi seperti Salmonella sp., E. coli, S. aureus, Bacillus subtilis, atau jamur Aspergillus flavus yang sering mengontaminasi bahan pakan.

Sterilisasi Mekanik
Sterilisasi mekanik, biasa dilakukan dengan filtrasi. Filtrasi disini menggunakan suatu saringan yang berpori kecil  sehingga mikroba dapat tertahan pada saringan tersebut. Ukuran nominal pori penyaring 0,2 μm atau kurang dan penyaring dibuat dari berbagai jenis bahan seperti selulosa asetat, selulosa nitrat, florokarbonat, polimer akrilik, polikarbonat, poliester, polivinil klorida, vinil, nilon, politef, dan berbagai tipe bahan lain termasuk memban logam.

Sterilisasi Fisik
Pada sterilisasi fisik dapat dilakukan dengan 2 sistem, yaitu system pemanasan dan penyinaran. System pemanasan sendiri terdiri dari 4 macam, yaitu: Pemijaran (dengan api langsung): membakar alat pada api secara langsung, contoh alat : jarum inokulum, pinset, batang L, dll.  Panas kering: sterilisasi dengan oven kira-kira 60-1800C. Sterilisasi panas kering cocok untuk alat yang terbuat dari kaca misalnya erlenmeyer, tabung reaksi dll. Uap air panas : konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan yang mengandung air lebih tepat menggungakan metode ini supaya tidak terjadi dehidrasi. pemanasan basah : menggunakan autoklaf.

Sterilisasi Kimia
Sterilisasi secara kimiawi biasanya menggunakan senyawa disinfektan. Senyawa disinfektan yang biasa digunakan yaitu alcohol. Salah satu kegunaan dari alcohol ini adalah untuk sterlisasi area tempat kerja. Pada saat pemindahan bahan, kita juga harus mempertimbangkan faktor lingkungan yang ada. Jika lingkungan tidak steril, maka bahan dapat terkontaminasi oleh bakteri atau mikroorganisme yang ada di udara atau dilingkukan itu sendiri.
Teknik Aseptis
Teknik aseptis sangat penting dalam pengerjaan mikrobiologi yang memerlukan ketelitian dan keakuratan disamping kesterilan yang harus selalu dijaga agar terbebas dari kontaminan yang dapat mencemari. Populasi mikroba di alam sekitar kita sangat besar dan komplek. Beratus-ratus spesies berbagai mikroba biasanya menghuni bermacam-macam bagian tubuh kita, termasuk mulut, saluran pencernaan, dan kulit. Sekali bersin terdapat beribu-ribu mikroorganisme sehingga diperlukan teknik yang dapat meminimalisir seperti pengisolasian (Pelczar & Chan,1986).  
Autoclave
            Sterilisasi basah biasanya dilakukan didalam autoklaf atau aterilisator uap yang mudah diangkat dengan menggunakan uap air jenuh bertekanan pada suhu 1210C selama 15 menit. Cara pemanasan basah dapat membunuh jasad renik atau mikroorganisme terutama karena panas basah dapat menyebabkan denaturasi protein, termasuk enzim-enzim didalam sel (Fardiaz, 1992).
            Autoclave adalah alat untuk mensterilkan berbagai macam alat & bahan yang menggunakan tekanan 15 psi (1,02 atm) dan suhu 1210C. Autoclave yang ada di laboratorium terbagi menjadi dua yaitu yang digunakan untuk sterilisasi alat dan medium (media) yang akan dipakai, serta yang digunakan untuk destruksi atau sterilisasi kotor. Rongga di dalam autoclave tidak boleh terlalu penuh diisi dengan benda-benda yang akan disterilisasikan agar dapat terjadi aliran uap yang cukup baik. Sterilisasi basah adalah sterilisasi panas yang digunakan bersama-sama dengan uap air.
            Autoclave digunakan sebagai alat sterilisasi uap dengan tekanan tinggi. Penggunaan autoclave untuk sterilisasi, tutupnya jangan diletakan sembarangan dan dibuka-buka karena isi botol atau tempat medium akan meluap dan hanya boleh dibuka ketika manometer menunjukkan angka 0 serta dilakukan pendinginan sedikit demi sedikit. Medium yang mengandung vitamin, gelatin atau gula, maka setelah sterilisasi medium harus segera didinginkan. Cara ini untuk menghindari zat tersebut terurai. Medium dapat langsung disimpan di lemari es jika medium sudah dapat dipastikan steril (Dwidjoseputro, 1994).













MATERI DAN METODE
Materi
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah aquades, botol bening, alkohol 70%, cawan petri, lampu spirtus, korek api, tissue, sprayer, kertas, pipet, tabung reaksi, osse, kapas, dan plastik. Autoclave juga dibutuhkan dalam praktikum kali ini untuk sterilisasi basah.
Metode
Tubuh praktikan dan meja tempat kerja mikrob disemprot dengan menggunakan alkohol 70%. Alkohol yang disemprotkan di meja dibiarkan beberapa saat kemudian diseka menggunakan tissue. Lampu spirtus yang akan digunakan juga diseka menggunakan tissue yang telah dibasahi menggunakan alkohol 70%. Osse yang akan digunakan untuk mengambil inokulan dipanasi di atas lampu spirtus sampai merah menyala, setelah itu dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi inokulan dengan tetap berada tidak jauh dari api. Mulut tabung reaksi yang berisi inokulan dipanasi menggunakan api, baik sebelum maupun sesudah digunakan. Osse yang telah digunakan dibakar lagi di atas api sampai merah menyala. Tabung reaksi yang akan digunakan harus dipanasi bagian mulutnya nenggunakan api, dapat menggunkan bantuan gegep kayu atau menggunakan tangan secara langsung, kapas yang akan digunakan sebagai penutup tabung reaksi juga harus dipanasi terlebih dahulu di sekitar api, begitu juga saat proses penutupan. Cawan petri yang akan digunakan terlebih dahulu dipanaskan bagian tepinya secara melingkar sampai hangat, kemudian seminim mungkin dibuka untuk mengisikan media ke dalam cawan petri tersebut dengan tetap berada di dekat api. Setelah selesai, cawan petri kemudian ditutup dan dipanaskan bagian tepinya secara melingkar.
Sterilisasi basah dapat dilakukan dengan membungkus alat-alat (cawan petri dan pipet) menggunakan kertas lalu mengumpulkan alat-alat yang sejenis tersebut dalam satu kantong plastik bening tahan panas. Alat-alat tersebut, kemudian dimasukkan ke dalam autoclave otomatis dengan suhu 121oC, tekanan 1 atm, dan disetting selama 15 menit. Autoclave akan berbunyi Setelah 15 menit, lalu bagian pemutar waktu diputar ke arah nol, dan ditunggu sampai suhunya di atas nol sedikit baru dibuka tutup autoclavenya. Sterilisasi kering dapat dilakukan dengan meletakkan alat-alat yang dibungkus tadi ke dalam oven.











PEMBAHASAN
Sterilisasi dalam mikrobiologi berarti membebaskan tiap benda atau substansi dari semua kehidupan dalam bentuk apapun. Untuk tujuan mikrobiologi dalam usaha mendapatkan keadaan steril, mikroorganisme dapat dimatikan setempat oleh panas (kalor), gas-gas seperti formaldehide, etilenoksida atau betapriolakton oleh bermacam-macam larutan kimia; oleh sinar lembayung ultra atau sinar gamma. Mikroorganisme juga dapat disingkirkan secara mekanik oleh sentrifugasi kecepatan tinggi atau oleh filtrasi. Sterilisasi yaitu suatu proses atau kegiatan membebaskan bahan atau benda dari semua bentuk kehidupan (Levinson, 2008).

 Sterilisasi Secara Fisik
           
            Metode Incineration (Pemijaran / Pembakaran langsung), cara ini terutama dipakai untuk sterilisasi jarum ose dan sebagian yang terbuat dari platina atau khrom. Caranya adalah dengan membakar alat-alat tersebut di atas api lampu spiritus sampai pijar (merah padam). Hanya saja dalam proses pembakaran langsung ini alat-alat tersebut lama kelamaan menjadi rusak. Keuntungan mikroorganisme akan hancur semua (Hani, 2007).
            Sterilisasi panas kering dilakukan menggunakan oven pensteril (Hot Air Stelizer). Sterilisasi panas kering ini tercapai dengan proses konduksi panas. Pada awalnya, panas diabsorbsi oleh permukaan luar dari sebuah instrument dan kemudian dikirimkan ke lapisan berikutnya. Pada akhirnya keseluruhan objek mencapai suhu yang di butuhkan untuk sterilisasi. Mikrooragnisme mati pada saat penghancuran protein secara lambat oleh panas kering. Proses sterilisasi panas kering berlangsung lebih lama dari pada sterilisasi uap, karena kelembapan dalam proses sterilisasi uap secara pasti mempercepat penetrasi uap dan memperpendek waktu yang di butuhkan untuk membunuh mikroorganisme (Tietjen, 2004). Oleh karena itu metode ini memerlukan temperatur yang lebih tinggi dan waktu yang lebih penjang, sterilisasi panas kering biasanya ditetapkan pada temperatur 160-170oC dengan waktu 1-2 jam. Umumnya digunakan untuk senyawa-senyawa yang tidak efektif untuk disterilkan dengan uap air, seperti minyak lemak, minyak mineral, gliserin (berbagai jenis minyak), petrolatum jelly, lilin wax dan serbuk yang tidak stabil dengan uap air. Metode ini efektif untuk mensterilakan alat-alat gelas dan belah. Karena tingginya suhu yang ditetapkan dalam sterilisasi panas kering, maka metode ini dapat digunakan untuk alat-alat gelas yang membutuhkan keakuratan. Contohnya alat ukur dan penutup karet atau plastik. Prinsipnya adalah protein mikroba pertama-tama akan mengalami dehidrasi sampai kering. Selanjutnya teroksidasi oleh oksigen dari udara sehingga menyebabkan mikroba mati (Razuna, 2010).
            Metode  Pemanasan secara Intermittent (Terputus-putus / Uap Air Panas), John Tyndall (1877) dari hasil penelitiannya menyatakan bahwa pada temperatur didih 100oC selama 1 jam tidak dapat membunuh semua mikroorganisme, tetapi bila air dididihkan berulang-ulang sampai lima kali dan setiap air mendidih istirahat selama 1 menit akan sangat berhasil membunuh kuman. Hal ini disebabkan bahwa dengan pemanasan intermitten, lingkaran hidup pembentukan spora dapat diputuskan (Hani, 2007).
            Metode Pemanasan dengan Uap Air Bertekanan, prinsip-prinsip umum penguapan adalah sterilan yang efektif karena uap paket adalah sebuah kendaraan energy termal yang sangat efektif. Jenis ini jauh lebih efektif untuk mengangkut energy ke bahan yang akan disterilisasi daripada udara panas (kering). Uap adalah sterilan yang efektif karena lapisan luar mikroorganisme yang bersifat protektif dan resistan dapat dilemahkan oleh uap, sehingga terjadi koagulasi pada bagian dalam mikroorgnisme yang sensitive. Beberapa jenis kontaminan tertentu, khususnya yang berlemak atau berminyak, dapat melindungi mikroorganisme dari efek uap, sehingga mengganggu proses sterilisasi. Alasan ini yang menekan kembali kepentingan mencuci bersih bahan-bahan sebelum proses sterilisasi (Tietjen, 2004).
              Sterilisasi uap harus memenuhi empat kondisi kontak yang memadai suhu yang sangat tinggi, waktu yang tepat dan kelembababan yang memadai. Walaupun seluruhnya perlu untuk terjadi sterilisasi, kegagalan sterilisasi klinik dan rumah sakit sering disebabkan oleh kurangnya kontak uap atau kegagalan untuk mencapai suhu yang memadai (Tietjen, 2004).

Sterilisasi Secara Kimia

            Selain penguapan tekanan tinggi atau sterilisasi panas kering sebagai alternative adalah sterilisasi kimia (sterilisai dingin). Apabila objek harus disterilisasi, sedangkan bila mempergunakan uap tekanan tinggi atau sterilisasi panas-kering akan merusak objek tersebut atau apabila peralatan tidak tersedia, maka objek itu dapat disterilkan secara kimia. Sejumlah disenfektan tingkat tinggi akan membunuh endospora setelah paparan berkepanjangan (10-24 jam). Disenfektan umum yang dapat digunakan untuk sterilisasi berlangsung dengan merendamnya selama sekurang-kurangnya 10 jam dalam larutan glutaraldehid 2-4 % atau setidaknya 24 jam dalam larutan formaldehid 8%. Glutaraldehid, seperti Cidex, seringkali jarang tersedia dipasaran dan harganya sangat mahal, tetapi larutan ini satu-satunya sterilan yang praktis untuk instrument tertentu, seperti laparoskop yang tidak dapat dipanaskan. Baik glutaraldehid maupun formaldehid membutuhkan penanganan khusus dan meninggalkan sisa pada instrument yang sudah ditangani. Oleh karena itu membilas dengan air steril adalah suatu keharusan apabila instrument itu hendak dijaga tetap steril. Juga apabila tidak dibilas sisa ini akan menggangu (menyebabkan lengket) bagian geser laparoskop dan juga akan memperkeruh lensa alat tersebut (Tietjen, 2004).
            Walaupun lebih murah dari glutaraldehid, larutan formaldehid lebih menyebabkan iritasi atas kulit, mata dan saluran nafas serta diklasifikasikan sebagai potensial karsinogen. Apabila menggunakan glutaraldehid atau formaldehid, pakailah sarung tangan untuk menghindari percikan, membatasi waktu paparan dan gunakan kedua zat kimia hanya pada area yang berventilasi baik. Karena instrument ini tidak terbungkus setelah sterilisasi kimia, instrument ini harus dipindahkan dan disimpan pada sebuah wadah steril dan tertutup (Tietjen, 2004).




1426546629748.jpgGambar 1. Sterilisasi Basah Cawan Petri
1426546631945.jpg1426546638092.jpg
1426546603293.jpg

            Sterilisasi basah dapat dilakukan dengan membungkus alat-alat (cawan petri dan pipet) menggunakan kertas lalu mengumpulkan alat-alat yang sejenis tersebut dalam satu kantong plastik bening tahan panas. Alat-alat tersebut, kemudian dimasukkan ke dalam autoclave otomatis dengan suhu 121oC, tekanan 1 atm, dan disetting selama 15 menit. Autoclave akan berbunyi setelah 15 menit, lalu bagian pemutar waktu diputar ke arah nol, dan ditunggu sampai suhunya di atas nol sedikit baru dibuka tutup autoclavenya. Sterilisasi kering dapat dilakukan dengan meletakkan alat-alat yang dibungkus tadi ke dalam oven.
1426546621877.jpg 1426546617963.jpg

Gambar 2. Sterilisasi Pemijaran Untuk Membuat Inokulan
1426546612153.jpg

            Osse yang akan digunakan untuk mengambil inokulan dipanasi di atas lampu spirtus sampai merah menyala, setelah itu dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi inokulan dengan tetap berada tidak jauh dari api. Mulut tabung reaksi yang berisi inokulan dipanasi menggunakan api, baik sebelum maupun sesudah digunakan. Osse yang telah digunakan dibakar lagi di atas api sampai merah menyala. Tabung reaksi yang akan digunakan harus dipanasi bagian mulutnya nenggunakan api, dapat menggunkan bantuan gegep kayu atau menggunakan tangan secara langsung, kapas yang akan digunakan sebagai penutup tabung reaksi juga harus dipanasi terlebih dahulu di sekitar api, begitu juga saat proses penutupan.

KESIMPULAN
            Teknik sterilisasi untuk menangani sampel ataupun alat yang terkena kontaminasi.Teknik sterilisasi yang umum dilakukan adalah dengan menggunakan panas kering dan panas basah. Sterilisasi dengan panas kering dapat dilakukan dengan api spirtus, sedangkan panas basah dilakukan dengan autoclave.Serta dapat mengetahui teknik kerja aseptik agar tidak terjadi kesalahan saat pengamatan mikroorganisme sehingga dapat meminimalisir kesalahan.























DAFTAR PUSTAKA
Agalloco, J. 2008, Validation of Pharmaceutical Processes (electronic version),  USA : Informa Healthcare Inc.
Dwidjoseputro, D. 1994. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan.
Fardiaz.1992. Teknik Kultur Jaringan. Bogor: Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman Pusat Antar Universitas Bioteknologi IPB – Lembaga Sumberdaya Informasi IPB.
Hadioetomo, R.S. 1993.  Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek, Teknik dan  Prosedur  Dasar Laboratorium. Jakarta : Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama.
Hani, Ahmad Ruslan. Handoko Riwidiko. 2007. Fisika Kesehatan. Mitra
Cendikia Press : Yogyakarta.
Levinson W. 2008.Review of Medical Microbiology & Imunology, Tenth Edition. New York : The McGraw-Hill Companies, Inc.
Pelczar,M. J. dan E. C. S. Chan. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta : UI Press.
Sandra, E. 2003. Kultur Jaringan Anggrek Skala Rumah Tangga. Jakarta : AgroMedia Pustaka.
Tietjen, Linda. Debora Bossemeyer. Noel Mc Intosh. 2004. Panduan Pencegahan Infeksi untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan Sumber Daya Terbatas. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo : Jakarta.
Waluyo, L. 2005. Mikrobiologi Umum. Malang, UMM Press.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar