animasi bergerak gif
IN YOUR EYES: Laporan Praktikum MIKROBIOLOGI NUTRISI - PENGARUH AGEN DEFAUNASI TERHADAP POPULASI PROTOZOA RUMEN

Rabu, 09 September 2015

Laporan Praktikum MIKROBIOLOGI NUTRISI - PENGARUH AGEN DEFAUNASI TERHADAP POPULASI PROTOZOA RUMEN

Laporan praktikum ke : 6
Hari/tanggal : 5 Mei 2015
Mikrobiologi nutrisi
Nama asisten :
Lilis Riyanti  D2451230041





PENGARUH AGEN DEFAUNASI TERHADAP POPULASI PROTOZOA RUMEN

Wungu Endah Cahyani
D24130061
Kel 02/G2











DEPARTEMEN ILMU NUTRISI & TEKNOLOGI PAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015



PENDAHULUAN
Latar belakang
Kerja bakteri rumen dalam mendegradasi serat pakan sering terganggu dengan keberadaan protozoa dalam rumen dan merupakan predator bagi sebagian bakteri (Hobson 1997). Berdasarkan hasil beberapa penelitian, keberadaan protozoa dalam rumen lebih banyak merugikan dibandingkan keuntungannya (Eugene et al. 2004). Apabila populasi protozoa yang ada di dalam rumen ditekan jumlahnya, maka akan terjadi perubahan komposisi mikroba rumen yang mengarah pada dominasi bakteri rumen yang mendegradasi serat sehingga kecernaan serat dan pemanfaatan pakan akan meningkat dan selanjutnya pertumbuhan ternak dapat ditingkatkan (Wina et al. 2005a; 2005b). Populasi protozoa dapat ditekan dengan memberikan senyawa seperti saponin yang bersifat antiprotozoa (Newbold et el., 1997; Goel et al. 2008).
Tujuan
Untuk mengetahui dan membandingkan jenis agen defaunasi terbaik dalam menurunkan populasi protozoa.

TINJAUAN PUSTAKA
Protozoa
. Protozoa bersifat anaerob. Apabila kadar oksigen maupun nilai pH isi rumen tinggi, maka protozoa tidak dapat membentuk cyste untuk mempertahankan diri dari lingkungan yang jelek, sehingga dengan cepat akan mati (Arora 1989). Protozoa memiliki jumlah yang lebih sedikit daripada bakteri. Protozoa memiliki ukuran tubuh 7 lebih besar sehingga total biomasanya hampir sama dengan bakteri (McDonald et al. 2002). Jumlah protozoa dalam rumen sangat beragam menurut jenis makanan, umur, dan jenis hewan yang menjadi inangnya. Biasanya jumlah protozoa ciliata adalah 105 per ml pada makanan berserat kasar tinggi, namun jumlah ini meningkat menjadi 106 per ml pada adaptasi terhadap gula-gula terlarut (Arora 1989).
Agen Defaunasi
Defaunasi adalah pengurangan jumlah populasi protozoa secara menyeluruh maupun sebagian (parsial) dengan tujuan untuk mengoptimalkan tingkat kecernaan serat kasar pakan. Defaunasi dilakukan karena kehadiran protozoa dalam rumen cenderung merugikan, hal ini terjadi karena protozoa mempunyai sifat predator bagi mikroba lain terutama bakteri dan jamur (Prihandono, 2001). Populasi protozoa dalam rumen pada kondisi normal sekitar 106 sel/ml cairan rumen. Jumlah tersebut dipengaruhi oleh ransum dan meliputi sekitar 40% dari total nitrogen mikroba rumen (Hungate, 2001).
            Keberadaan protozoa yang melebihi populasi normal cenderung merugikan, sehingga perlu adanya usaha untuk mengendalikan populasi protozoa dalam rumen. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mengendalikan populasi protozoa adalah dengan menambahkan agen defaunasi pada ransum ternak. Bahan-bahan alami yang relative aman untuk digunakan sebagai agen defaunasi, misalnya minyak kelapa atau daun kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis). Penggunaan daun kembang sepatu sebagai agen defaunasi lebih baik daripada minyak kelapa karena peningkatan kecernaan ransum yang didefaunasi dengan daun kembang sepatu lebih tinggi daripada minyak kelapa (Widayati, 1994). Adapun agen defaunasi yang lain adalah buah Lerak (SAPINDUS rarak DC) yang mengandung saponin tinggi. Hasil penelitian di Balai Penelitian Ternak, Ciawi menunjukkan bahwa ekstrak daging buah Lerak dapat berfungsi untuk menekan pertumbuhan protozoa dan meningkatkan performans domba (Thalib et al. 1994,1996, Wina et al. 2006).
Saponifikasi

            Populasi protozoa di dalam rumen dapat dikurangi dengan memberikan agen defaunasi seperti saponin. Mekanisme kerja saponin dalam defaunasi adalah mempengaruhi tegangan permukaan dinding sel protozoa. Peningkatan permeabilitas dinding sel, menyebabkan cairan di luar sel akan masuk ke dalam sel protozoa. Masuknya cairan dari luar sel menyebabkan pecahnya dinding sel sehingga protozoa mengalami kematian atau lisis. Konsentrasi yang tinggi dari saponin, akan menekan populasi protozoa lebih besar. Pengurangan protozoa tersebut akan mempengaruhi populasi bakteri metanogenik dan bakteri pendegradasi serat atau selulolitik. Saponin dapat mengganggu perkembangan protozoa dengan terjadinya ikatan antara saponin dengan sterol pada permukaan membran sel protozoa, menyebabkan membran pecah, sel lisis dan mati. Keberadaan kolesterol pada membran sel eukariotik (termasuk protozoa) tetapi tidak terdapat pada sel bakteri prokariotik, memungkinkan protozoa rumen lebih rentan terhadap saponin karena saponin mempunyai daya tarik menarik terhadap kolesterol. Populasi bakteri rumen tidak mengalami gangguan karena disamping bakteri tidak mempunyai sterol yang dapat berikatan dengan saponin, bakteri mempunyai kemampuan untuk memetabolisme faktor antiprotozoa tersebut dengan menghilangkan rantai karbohidrat (Suparjo  2009).

TBFS

            Menurut Ogimoto dan Imai (1981). Larutan TBFS terdiri dari 100 ml formaldehid 35%, 2 g triphan blue, 9 g NaCl dan 900 ml air. Cairan rumen yang baru diambil (menggunakan stomach tube) dicampur dengan larutan TBFS dengan perbandingan 1 : 2. Kemudian 1 tetes campuran tersebut ditempatkan pada ruang hitung (counting chamber). Kotak terkecil memiliki ketebalan 0.2 mm, luas 0.0625 mm2 , dan seluruhnya berjumlah 16 x 16 buah. Pencacahan jumlah protozoa dilakukan dengan menggunakan mikroskop pada pembesaran 100 kali.





MATERI DAN METODE

Materi

Alat
            Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu tabung film, mortar, tabung fermentor dan tutupnya, shaker waterbath, counting chamber, mikroskop, dan alat lain yang dibutuhkan.

Bahan
            Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah daun gamal, daun kembang sepatu, lerak, saliva buatan McDougall, cairan rumen, aquades, dan TBFS.

Metode

            Sampel daun digerus dengan mortar kemudian diambil sebanyak 1 gram dan ditambahkan air panas hingga volumenya 100 ml. Setelah itu, diaduk hingga mengendap dan diambil filtratnya. Selanjutnya 1 ml agen defaunasi ditambahkan 12 ml larutan saliva buatan dan 8 ml cairan rumen. Kemudian diinkubasi selama 30 menit di shaker waterbath. Setelah itu, ambil larutan yang telah diinkubasi sebanyak 1ml dan masukkan ke dalam botol film yang sudah berisi 1ml TBFS. Kemudian amati dibawah mikroskop.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambar 1. Pengamatan penambahan saponin pada cairan rumen yang berpengaruh terhadap aktivitas dan populasi protozoa rumen
sesudah coy.jpgsebelum coy.jpg
Sesudah ditambahkan saponin        sebelum ditambahkan saponin
            Hasil pengamatan diatas merupakan indikasi bahwa aktivitas dan populasi protozoa rumen akan berkurang dengan penambahan saponin. Pengamatan ini sesuai dengan literatur yang menerangkan bahwa populasi protozoa di dalam rumen dapat dikurangi dengan memberikan agen defaunasi seperti saponin. Mekanisme kerja saponin dalam defaunasi adalah mempengaruhi tegangan permukaan dinding sel protozoa. Peningkatan permeabilitas dinding sel, menyebabkan cairan di luar sel akan masuk ke dalam sel protozoa. Masuknya cairan dari luar sel menyebabkan pecahnya dinding sel sehingga protozoa mengalami kematian atau lisis (Istiqomah dkk, 2011).
            Pengamatan agen defaunasi sapindus rarak dan sabun colek terhadap penurunan protozoa rumen yang kan disajikan pada tabel dibawah ini
Tabel 1. Hasil Pengamatan perhitungan populasi protozoa pada cairan rumen yang telah ditambahkan agen defaunasi.
No
Agen defaunasi
Jumlah protozoa
Populasi Protozoa
(sel/ml CR)
1
Kontrol
18
2812
2
Daun kaliandra
6
937
3
Sabun colek
4
625
4
Sabun Lerak
5
781
            Pengamatan pada sampel agen defaunasi diperoleh hasil bahwa ketiga sampel mempengaruhi penurunan protozoa rumen. Adapun sabun colek yang menurunkan jumlah populasi protozoa paling rendah dibandingkan dengan kontrol, sedangkan daun kaliandra hanya menurunkan populasi protozoa 937 sel/ml CR, dan sabun lerak 781 sel/ml CR. Hal ini sesuai dengan literatur yaitu istilah saponin sendiri merupakan turunan dari bahasa latin ‘sapo’ yang berarti sabun, diambil dari kata saponaria vaccaria , suatu tanaman yang mengandung saponin digunakan sebagai sabun untuk mencuci, dimana kandungan detergen dan saponin dalam sabun sangat tinggi (Lubis 1968). Spesies tanaman sapindus seperti Sapindus saponaria, S. rarak, S. emarginatus, S. drummonii dan S. delavay pada umumnya mempunyai kandungan saponin yang tinggi. Salah satu jenis sapindus yang mempunyai kandungan saponin tinggi dan dapat dimanfaatkan sebagai imbuhan pakan pada ruminansia adalah Sapindus rarak (lerak). Buah lerak dalam bentuk hasil ekstraksi dengan metanol telah dilaporkan mengandung saponin dengan kadar lebih tinggi daripada buahnya yang tanpa diekstrak (Thalib 2004). Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Astuti et al. (2008) menyatakan buah lerak (Sapindus rarak) yang diekstraksi dengan metanol mengandung saponin yang cukup tinggi yaitu mancapai 81,5%. Menurut Sunaryadi (1999) kandungan saponin total hasil ekstraksi tanaman lerak banyak terdapat di bagian daging buah yaitu sekitar 48,87%. Menurut Nahrowi 2008, Kaliandra umumnya tidak mengandung racun, kecuali adanya tannin yang cukup tinggi yang bisa mencapai 11%. Dikarenakan kandungan saponin yang cukup rendah maka pada pernanan agen defaunasi tidak terlalu berpengaruh pada penurunan aktivitas dan populasi protozoa.
            Pengaruh penurunan populasi protozoa disebabkan terjadinya mekanisme gangguan terhadap protozoa sebagai akibat terjadinya ikatan antara saponin dengan sterol yang terdapat pada permukaan protozoa. Mekanisme ini tidak terjadi pada bakteri karena bakteri tidak memiliki sterol pada membrannya (Francis et al. 2002). Ikatan ini akan mengubah permeabilitas membran sel (Patra et al. 2006).



KESIMPULAN
Saponin merupakan detergen alami yang berpengaruh terhadap penurunan jumlah populasi protozoa. Agen defaunasi yang diamati adalah daun kaliandra, sabun colek, dan sabun lerak, dimana terdapat perbedaan kandungan saponin didalamnya. Agen defaunasi yang paling baik dalam penurunan populasi protozoa adalah sabun colek dan sabun lerak.

DAFTAR PUSTAKA
Arora, S.P. 1989. Pencernaan Mikroba Pada Ruminansia. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.
Astuti, D.A., E. Wina, B. Haryanto dan S. Suharti. 2008. Suplementasi lerak berbentuk pakan blok untuk meningkatkan produksi dan kualitas daging sapi potong serta pengaruhnya terhadap keseimbangan mikroba rumen. Laporan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. IPB Bekerja sama dengan BPPT Ciawi, Bogor.
Eugene M., H. Archimede, B. Michalet-Doreau and G. Fonty. 2004. Effects of defaunation on microbial activities in the rumen of rams consuming a mixed diet (fresh Digitaria decumbens grass and concentrate). Anim. Res. 53: 187-200.
Francis, G., Z. Kerem, H.P.S. Makkar and K. Becker. 2002. The biological action of saponins in animal systems: A review. Bt. J. Nutr. 88: 587-605.
Hungate, R.E. 1966. The Rumen and Its Microbes. Academic Press: New York and London.
Istiqomah, L., H. Herdian, A. Febrisantosa and D. Putra. 2011. Waru Leaf (Hibiscus tiliaceus) as Saponin Source on In Vitro Ruminal Fermentation Characteristic. J. Indonesian Trop.Anim.Agric.36(1):43-49
Lubis, D. A. 1968. Ilmu pakan Ternak. P.T. Pembangunan. Jakarta.
McDonald, P. ; Edwards, R. A. ; Greenhalgh, J. F. D., 2002. Animal Nutrition. 6th Edition. Longman, London
Nahrowi.2008. Pengetahuan Bahan Pakan. Nutri Sejahtra Press. Bogor.
Newbold, C.J., S.M. El Hassan, J. Wang, M.E. Ortega and R.J. Wallace. 1997. Influence of foliage from African multipurpose trees on activity of rumen protozoa and bacteria. Br. J. Nutr. 78: 237–249.
Ogimoto K, Imai S. 1981. Atlas of Rumen Microbiology. Tokyo. Japan Science.Societes Press.
Patra, A.K., D.N. Kamra and N. Agarwal. 2006. Effect of plant extracts on in vitro methanogenesis, enzyme activities and fermentation of feed in rumen liquor of buffalo. Anim. Feed Sci. Technol. 128: 276-291.
Sunaryadi. 1999. Ekstraksi dan isolasi buah lerak (Sapindus rarak) serta pengujian daya defaunasinya. Tesis. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Suparjo. 2009. Saponin: Peran dan Pengaruhnya bagi Ternak dan Manusia. Artikel. Laboratorium Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Jambi. Jambi.
Thalib. 2004. Uji efektivitas saponin buah sapindus rarak sebagai inhibitor metanogenesis secara in vitro. J. Ilmu Ternak dan Veteriner 9(3): 164-171.
Thalib A, M. Winugroho, M. Sabrani, Y. Widiawati dan D. Suherman.1994. The use of methanol extracted Sapindus rarak fruit as a defaunating agent of rumen protozoa. Ilmu dan Peternakan 7: 17-21.
Thalib, A., Y. Widiawati, H. Hamid, D. Suherman dan M. Sabrani. 1996. The effects of saponin from Sapindus rarak fruit on rumen microbes and performance of sheep. JITV. 2: 17-20
Wina, E., S.Muetzel, E.M. Hoffmann, H.P.S. Makkar and K. Becker. 2005a. Effect of secondary compounds in forages on rumen micro-organisms quantified by 16S and 18S RNA. In: Applications of gene-based technologies for improving animal production and health in developing countries. H.P.S. MAKKAR and G.J. VILJOEN (Eds.), IAEA-FAO, Springer, Netherlands, pp. 397-410.

Wina, E., S. Muetzel, E.M. Hoffmann, H.P.S. Makkar and K. Becker. 2005b. Saponins containing methanol extract of Sapindus rarak affect microbial fermentation, microbial activity and microbial community structure in vitro. Anim. Feed. Sci. Technol.121: 59-174.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar