animasi bergerak gif
IN YOUR EYES: Laporan Praktikum MIKROBIOLOGI NUTRISI - PERHITUNGAN POPULASI BAKTERI TOTAL

Rabu, 09 September 2015

Laporan Praktikum MIKROBIOLOGI NUTRISI - PERHITUNGAN POPULASI BAKTERI TOTAL

Laporan praktikum ke : 9
Hari/tanggal : 12 Mei 2015
Mikrobiologi nutrisi
Nama asisten :
Afdola Riski N    D24110041




PERHITUNGAN POPULASI BAKTERI TOTAL

Wungu Endah Cahyani
D24130061
Kel 02/G2











DEPARTEMEN ILMU NUTRISI & TEKNOLOGI PAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015



PENDAHULUAN
Latar Belakang

            Mikroorganisme di dalam rumen sangat penting keberadaannya karena mikroorganisme di dalam rumen berperan dalam proses pencernaan fermentatif ruminansia. Pakan yang telah ditelan akan mengalami fermentasi dan penguraian oleh enzim yang dihasilkan oleh mikroba rumen yang secara alami terdapat di dalam rumen. Peran mikroorganisme rumen dalam proses proses pencernaan pakan berserat adalah mengurai senyawa-senyawa kompleks seperti selulosa dan hemiselulosa menjadi senyawa-senyawa sederhana yang dapat dimanfaatkan oleh hewan tersebut sebagai sumber energi, protein, dan vitamin untuk proses pertumbuhannya.
             Populasi bakteri di dalam rumen paling besar diantara mikroorganisme rumen yang lain. Jumlah bakteri di dalam rumen mencapai 1-10 milyar/mI cairan rumen.Keberadaan bakteri juga ditemukan di dalam feses tetapi jumlahnya lebih sedikit dibandingkan jumlah bakteri di dalam rumen. Karena rumen merupakan habitat hidup bakteri yang sangat cocok dan istimewa dengan kondisi anaerob dan keasaman yang konstan.

Tujuan
            Untuk mengetahui media pertumbuhan bakteri total dan mengetahui perhitungan populasi bakteri total dari sampel rumen dan feses.
TINJAUAN PUSTAKA
Jumlah Bakteri Total di Dalam Rumen

            Menurut (Aurora 1989), rumen merupakan tabung besar dengan berbagai kantong yang menyimpan dan mencampur ingesta bagi fermentasi mikroba . Isi rumen pada ternak ruminansia berkisar antara 10-15% dari berat badan ternak tersebut . Kondisi dalam rumen adalah anaerobik dan mikroorganisme yang paling sesuai dan dapat hidup serta ditemukan di dalamnya . Tekanan osmosis pada rumen mirip dengan tekanan aliran darah . Temperatur dalam rumen adalah 32-42°C, pH dalam rumen kurang lebih tetap yaitu sekitar 6,8 dan adanya absorbsi asam lemak dan amonia berfungsi untuk mempertahankan pH (Aurora 1989) . Ada tiga macam mikroba yang terdapat di dalam cairan rumen, yaitu bakteri, protozoa dan sejumlah kecil jamur . Volume dari keseluruhan mikroba diperkirakan meliputi 3,60% dari cairan rumen (Bryant 1970) . Bakteri merupakan jumlah besar yang terbesar sedangkan protozoa lebih sedikit yaitu sekitar satu juta/ml cairan rumen . Jamur ditemukan pada ternak yang digembalakan dan fungsinya dalam rumen sebagai kelompok selulolitik (Mc Donald 1988) . Jumlah bakteri di dalam rumen mencapai 1-10 milyar/mI cairan rumen. Selanjutnya (Yokoyama dan Johnson 1988) menyatakan bahwa terdapat tiga bentuk bakteri yaitu bulat, batang dan spiral dengan ukuran yang bervariasi antara 0,3-50 mikron . Kebanyakan bakteri rumen adalah anaerob, hidup dan tumbuh tanpa kehadiran oksigen . Walaupun demikian masih terdapat kelompok bakteri yang dapat hidup dengan kehadiran sejumlah kecil oksigen, kelompok ini dinamakan bakteri fakultatif yang biasanya hidup menempel pada dinding rumen tempat terjadi difusi oksigen ke dalam rumen (Czerkawskin  1988) . Arora (1995) dan Subagyo (2008) menyatakan bahwa kadar N-NH3 dan VFA cairan rumen tergantung pada jumlah dan sifat protein bahan pakan yang dikonsumsi, serta mencerminkan jumlah protein ransum yang banyak dan dominan didalam rumen, nilainya sangat dipengaruhi oleh kemampuan mikroba rumen dalam mendegradasi protein ransum dan pemanfaatan oleh mikroba rumen.
Populasi Bakteri Total di Dalam Feses

            Feses merupakan buangan akhir sehingga nutrisi pada sudah banyak diserap di usus halus serta feses yang keluar dari ternak ruminansia terdiri dari mikroorganisme yang berbeda dari rumen, (Omed et al., 2000), sehingga kecernaan pakan akan berbeda dengan hasil kecernaan dari cairan rumen. Penelitian Michael R. Overcash et al (1983) mengemukakan bahwa jumlah bakteri aerob pada kotoran sapi 80 juta CFU/gram.  Jumlah bakteri yang bervariasi disebabkan oleh adanya perbedaan pakan setiap harinya dan aktivitas bakteri dalam media. Sesuai dengan pendapat Suriawiria (1986) peningkatan atau penurunan jumlah bakteri dipengaruhi oleh a) faktorbiologis, yaitu bentuk dan sifat mikroba terhadap lingkungan, serta asosiasi kehidupan diantara mikroba yang  tumbuh bersama ; b) faktor non biologis, antara lain kandungan sumber zat makanan di dalam media, suhu, kadar oksigen, cahaya dan sebagainya. Secara umum bakteri yang terdapat di dalam kotoran sapi mempunyai sifat yang heterotrop, yaitu bakteri yang memerlukan sumber carbon dalam bentuk senyawa organic, Hal ini diduga karena di dalam kotoran sapi perah terdapat bahan organic yang cukup besar. Kelemahan dari cairan feses adalah rendahnya jumlah populasi mikroba dibandingkan dengan jumlah populasi mikroba yang terdapat pada cairan rumen. (Todar 1998).
Rumen vs Feses
Mann dan Orkov (1973) dan Sharpe (1975) menyatakan bahwa ada persamaan spesies mikroba yang terdapat di dalam rumen dan feces seperti Bacteroides ruminicola, Fusobacterium sp, Micrococcus sp, Streptococci sp dan Rumincoccus sp namun belum ada informasi yang menyatakan jumlah terperinci dari populasi masing-masing mikroba tersebut baik yang terdapat didalam cairan rumen maupun didalam cairan sekum dan feses. Mikroba-mikroba tersebut tumbuh disaluran usus besar dan mampu mencerna sisa pakan. Namun jika digunakan sebagai inokulum potensinya lebih rendah dibanding mikroba dari cairan rumen. Todar (1998) mengatakan bahwa jumlah populasi mikroba didalam cairan rumen sepuluh kali lebih banyak dari pada jumlah populasi mikroba yang terdapat didalam feses dan ini akan mempengaruhi kegiatan fermentasi dan degradasi substrat yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kecernaan BK substrat secara keseluruhan. Penurunan pH juga dapat memungkinkan menurunkan aktivitas mikroorganisme rumen, akibat berkurangnya pertumbuhan mikroba, khususnya bakteri sellulolitik sehingga berdampak pada proses pencernaan fermentative dalam rumen, hal ini berdampak menurunnya kadar nutrien, akibat ketidakmampuan mikroorganisme mendegragdasi lignin sehingga menyebabkan penurunan kecernaan bahan kering. Feses berpotensi digunakan sebagai pengganti cairan rumen dalam teknik in vitro. Mikroba yang terdapat pada feses segar ataupun dalam rektum masih dapat dimanfaatkan sebagaimana yang dilakukan dalam penggunaan cairan rumen dalam teknik in vitro (Balfe 1985).
Kandungan nutrisi pada rumen
Kandungan rumen sapi menurut Rasyid (1981),  meliputi protein 8,86%, lemak 2,60%, serat kasar 28,78%, kalsium 0,53%, phospor 0,55%, BETN 41,24%, abu 18,54%, dan air 10,92%. Berdasarkan komposisi zat makanan yang terkandung didalamnya dapat dipastikan bahwa pemanfaatan isi rumen dalam batas-batas tertentu tidak akan menimbulkan akibat yang merugikan bila dijadikan bahan pencampur pakan berbagai ternak. Di dalam rumen ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing dan domba) terdapat populasi mikroba yang cukup banyak jumlahnya. Cairan rumen mengandung bakteri dan protozoa. Konsentrasi bakteri sekitar 10 pangkat 9 setiap cc isi rumen, sedangkan protozoa bervariasi sekitar 10 pangkat 5 - 10 pangkat 6 setiap cc isi rumen (Tillman, 1991).
Jenis dan Peran Bakteri Total Dalam Mencerna Nutrien di Dalam Rumen

            Bakteri Selulolitik yaitu Bakteri yang mempunyai kemampuan untuk memecah selulosa dan mampu bertahan pada kondisi yang buruk pada saat makanan yang mengandung serat kasar yang tinggi. Bakteri Proteolitik yaitu bakteri yang mempunyai kemampuan untuk memecah protein, asam amino dan peptida lain menjadi ammonia. Bakteri Methanogenik, merupakan bakteri yang dapat mengkatabolisasi alkohol dan asam organik menjadi methan dan karbondioksida. Bakteri Amilolitik merupakan bakteri yang dapat memfermentasikan amilum . Bakteri jenis ini relatif lebih tahan terhadap perubahan pH dibandingkan dengan bakteri selulolitik, dapat bekerja pada pH 5,7-7,0 (Orskov 1982) . Bakteri Lipolitik erupakan bakteri rumen yang dapat menghidrolisis lemak menjadi gliserol dan asam lemak . Hal ini dapat berlangsung karena adanya enzim lipase yang dapat memecah lemak (Tamminga dan Doreau 1991) . Bakteri Hemiselulotitik Hemiselulosa adalah karbohidrat yang terdapat dalam tanaman yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam asam dan alkali . Hemiselulosa ini terdapat dalam tanaman yang menjadi pakan temak dalam jumlah besar (Yokoyama dan Johnson 1988).



MATERI DAN METODE

Materi
Alat
            Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah tabung reaksi, penutup karet, roller tube, alkohol, tabung CO2, waterbath, syringe, inkubator, kompor, rak tabung reaksi dan tissue.

Bahan
            Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah cairan rumen, feses, BHI, dan media pengencer atau media putih.

Metode

            Cairan rumen atau feses sebanyak 0,1 ml dimasukkan ke dalam 4,9 ml media pengencer pertama. Kemudian dihomogenkan dengan dikocok membentuk angka delapan. Kemudian diambil sebanyak 0,1 ml dan dimasukkan ke dalam media BHI. Dari pengenceran pertama diambil 0,1 ml lalu dimasukkan ke dalam 4,9 ml pengencer ke dua. Kemudian dihomogenkan dengan dikocok membentuk angka delapan. Selanjutnya diambil 0,1 ml dan dimasukkan ke dalam media BHI. Dari pengenceran ketiga diambil 0,1 ml lalu dimasukkan ke dalam 4,9 ml pengencer keempat. Kemudian dihomogenkan dengan dikocok membentuk angka delapan. Selanjutnya diambil 0,1 ml dan dimasukkan ke dalam media BHI. Setelah itu media BHI yang telah diinokulasi bakteri rumen atau feses diinkubasi selama 24-48 jam. Selanjutnya hitung jumlah bakteri total yang tumbuh di dalamnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengamatan populasi bakteri total pada rumen yang telah dilakukan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 1. Koloni bakteri total dari sampel rumen
No.
Kontrol rumen
P1
P2
P3
P4
Total koloni (cfu.ml-1CR)
TBUD
TBUD
220
46
-
X
X
55x104
5.75x106
-
Keterangan :
TBUD : tidak bisa untuk dihitung
            Pengamatan perhitungan koloni bakteri total dari sampel rumen didapat hasil bahwa pada konrol rumen TBUD karena banyak sekali jumlah koloni bakterinya, pada P1 juga TBUD, pada P2 jumlah 220 cfu ml-1CR, pada P3 jumlah 46 cfu ml-1CR, pada P4 mengalami kontaminasi sehingga tidak didapat jumlah koloni. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi kontrol rumen dan perlakuan pengenceran sangat berbeda, pada pengenceran kondisi harus anaerob sejati dimana apabila mengalami kontaminasi oksigen akan menyebabkan berubahnya warna pink pada cairan dan bakteri rumen tidak dapat hidup. Pada ketersediaan nutrisi semakin bertambahnya pengenceran maka ketersediaan nutrisi semakin sedikit karena pengambilan sampel hanya 102.
Tabel 2. Koloni bakteri total dari sampel feses
No.
Kontrol feses
P1
P2
P3
P4
Total koloni (cfu.ml-1CR)
TBUD
85
4
-
-
x
42.5 x 102
104
-
-
Keterangan :
TBUD : tidak bisa untuk dihitung
Pengamatan perhitungan koloni bakteri total dari sampel feses didapat hasil bahwa pada kontrol feses TBUD karena banyak sekali jumlah koloni bakterinya, pada P1 jumlah 85  cfu ml-1CR, pada P2 4 cfu ml-1CR, pada P3 dan P4 tidak didapat jumlah koloni karena mengalami kontaminasi.
Perbedaan rumen dan feses terlihat bahwa pada jumlah bakteri masih banyak terdapat pada cairan rumen dibandingkan pada feses. Hal ini dikarenakan bahwa jumlah populasi mikroba didalam cairan rumen sepuluh kali lebih banyak dari pada jumlah populasi mikroba yang terdapat didalam feses (Todar 1998). Perbedaan kondisi pun mempengaruhi yaitu temperatur dalam rumen adalah 32-42°C, pH dalam rumen kurang lebih tetap yaitu sekitar 6,8 dan adanya absorbsi asam lemak dan amonia berfungsi untuk mempertahankan pH dan kondisi dalam rumen adalah anaerobik (Aurora 1989). Sedangkan pada bakteri yang terdapat di dalam kotoran sapi mempunyai sifat yang heterotrop (Suriawiria 1986).
Jumlah total koloni antara cairan rumen dan feses sangat berbeda yaitu Jumlah bakteri di dalam rumen mencapai 1-10 milyar/mI cairan rumen (Mc Donald 1988). Jumlah bakteri aerob pada kotoran sapi 80 juta CFU/gram (Michael R. Overcash et al 1983).
KESIMPULAN
            Media BHI merupakan media pertumbuhan bakteri yang digunakan untuk menumbuhkan bakteri dan sebagai media hidup pada bakteri. Pada perhitungan populasi bakteri total diketahui bahwa bakteri total pada cairan rumen lebih banyak 1-10 milyar/mI CR dibandingkan pada feses 80 juta CFU/gram.



DAFTAR PUSTAKA
Arora, S. P. 1995. Microbial Digestion in Ruminants. Indian Council of Agricultural Research, New Delhi.
Aurora S P. 1989 . Pencernaan Mikroba Pada Ruminansia Srigondo, B(ed). Gajah Mada University Press .
Balfe, B. 1985. The development of a twostage technique for the in vitro digestion of hay using ovine faeces (instead of rumen liquor) as a source of microorganisms BSc (hons) Dissertation University of Wales, Bangor
Mann, S.O. dan dan Ørkov, E.R. 1973. The effect of rumen and post rumen feeding of carbohydrates on the caecal mciroflora of sheep. Journal of Applied Bacteriology 36: 475 – 484.
McDonald P . Edwards R .A. Greenhalq, J.F.D. Animal Nutrition . 4 th ed Longman Scientific and tehnical, Hongkong .
Michael R. Overcash;  Frank James Humenik dan  J.R. Miner. 1983. Livestock Waste Management. Volume I. CRC Press, Inc. Boca Raton, Florida.
Omed, H.M., Lovett, D.K. dan Axford, R.F.E. 2000. Faecws as a source of microbial for estimating digestibility, In: Forage Evaluation in Ruminant Nutrition (Ed) D.I.Givens., E. Owen,. R.F.E. Axford dan H.M. Omed. CABI Publishing Oxon UK.
Subagyo. 2008. Buku diktat mata kuliah Ilmu Ternak Potong dan Kerja. Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Suriawiria, U. 1986.  Pengantar Mikrobiologi Umum. Cetakan Ke 1. Penerbit Angkasa. Bandung.
Todar, K. 1998. The Normal Bacterial Flora of Animals. Department of Bacteriology.University of Wisconsin.

Yokoyama M T . and Johnson K A. 1988 . Microbiology of The Rumen and Intestin . Prentice Hall . New Jersey.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar