|
Laporan praktikum ke : 4
|
Hari/tanggal : 21 April 2015
|
|
Mikrobiologi nutrisi
|
Nama asisten :
Gusti A.
Gultom D24080102
|
PEMBUATAN MEDIA AEROB DAN ANAEROB
Wungu Endah Cahyani
D24130061
Kel 02/G2
DEPARTEMEN
ILMU NUTRISI & TEKNOLOGI PAKAN
FAKULTAS
PETERNAKAN
INSTITUT
PERTANIAN BOGOR
2015
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kegiatan mikrobiologi erat kaitannya dengan pembuatan media. Mikroorganisme
dapat ditumbuhkan dan dikembangkan pada suatu substrat yang disebut medium atau
media. Isolat dapat ditumbuhkan pada media yang disediakan. Kemampuan
mikroba untuk tumbuh dan berkembang pada media salah satunya dipengaruhi oleh
kesesuaian media dengan jenis mikroba yang akan ditumbuhkan. Berdasarkan
kebutuhan mikroba terhadap oksigen untuk hidup, maka media tumbuh dikelompokkan
menjadi media anaerob dan aerob.
Media aerob merupakan media yang digunakan untuk menumbuh kembangkan
mikroba yang bersifat aerob (tahan terhadap oksigen). Salah satu mikroorganisme
yang sering ditumbuhkan pada media jenis ini adalah kapang. Sedeangkan media
anaerob merupakan media yang digunakan untuk menumbuh kembangkan mikroba yang
bersifat anaerob, perlu adanya pengosongan oksigen yang dilakukan dengan cara
memasukan karbondioksida pada media.
Tujuan
Praktikum
ini bertujuan agar praktikan dapat memahami dan mempraktekan pembuatan media
aerob dan anaerob.
TINJAUAN
PUSTAKA
Media adalah suatu
bahan yang terdiri atas campuran nutrisi yang dipakai untuk menumbuhkan
mikroba. Peran utama nutrien adalah sebagai sumber energi, bahan pembangun sel,
dan sebagai aseptor elektron dalam reaksi bioenergetik (reaksi yang
menghasilkan energi). Oleh karenanya bahan makanan yang diperlukan terdiri dari
air, sumber energi, sumber karbon, sumber aseptor elektron, sumber mineral,
faktor pertumbuhan, dan nitrogen. Dasar makanan
yang paling baik bagi pemeliharaan dan pembiakan bakteri adalah medium yang
mengandung zat-zat organik seperti rebusan daging, sayur-sayuran, sisa makanan
atau ramuan-ramuan yang dibuat oleh manusia (Pelczar, 1988).
Media aerob merupakan media untuk
menumbuh kembangkan mikroba yang bersifat aerob. mikroba aerob adalah mikroba
yang membutuhkan O2 untuk pertumbuhannya sedangkan media anaerob
merupakan media yang digunakan untuk menumbuhkan bakteri yang bersifat
anaerobik karena memberikan lingkungan yang lebih memungkinkan untuk bakteri
jenis tersebut untuk hidup (tidak membutuhkan O2).
Pengenalan bakteri ogimoto dan imai 1981
Rumen merupakan
ekosistem yang mengandung komponen biotic dan abiotik. Komponen Biotik adalah
mikroba rumen dengan populasi berkisar antara 1010 sampai 1012 sel/ml cairan
rumen (Ogimoto dan Imai, 1981) Mikroba Rumen sangat diperlukan dalam proses
pencernaan.
Definisi Anaerob dan Aerob
Anaerob artinya yaitu “hidup tanpa udara”. Perkembangan bakteri anaerob ini terjadi
pada tempat-tempat yang sedikit atau sama sekali tidak mengandung oksigen. Bakteri anaerob sering menyebabkan ulkus
pada penderita diabetes, gangren, infeksi yang merusak lapisan kulit sebelah
dalam dan jaringan serta luka infeksi akibat gigitan. Susunan saraf
pusat. Bakteri anaerob menyebabkan pembentukkan abses pada otak dan susunan
saraf pada tulang belakang aliran darah. Bakteri anaerob dapat ditemukan
di dalam aliran darah penderita yang sakit (keadaan ini disebut bakteremia) (Soearno 2004).
Aerob adalah keadaan dimana
lingkungan media terdapat oksigen.Sehingga bakteri aerob adalah bakteri yang
membutuhkan oksigen untuk proses respirasi. Oksigen juga dibutuhkan bakteri
untuk pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan bereproduksi.Bakteri aerob dapat
diisolasi dengan mudah dengan mengkultur bakteri pada media cair. Bakteri hasil
kultur biasanya berkumpul di permukaan media cair sehingga dapat menyerap
oksigen secara maksimal. Anaerob adalah
lingkungan media yang terisolasi sehingga sangat sedikit oksigen atau tidak ada
sama sekali oksigen. Perkembangan
bakteri anaerob ini terjadi pada tempat-tempat yang sedikit atau sama sekali
tidak mengandung oksigen. Kuman-kuman ini normalnya ditemukan di mulut, saluran
pencernaan dan vagina serta pada kulit. Umumnya penyakit-penyakit yang
disebabkan oleh bakteri anaerob adalah gas gangren, tetanus dan botulisme.
Bakteri anaerob dapat menyebabkan infeksi jika barier (sawar) normal (seperti
kulit, gusi dan dinding usus) mengalami kerusakkan akibat pembedahan, jejas
atau penyakit. Biasanya sistem kekebalan tubuh akan membunuh bakteri yang masuk
ke dalam tubuh, tetapi kadang-kadang bakteri tersebut mampu berkembang dan
menyebabkan infeksi.
ETA (Ekstrak
Tauge Agar)
Ekstrak
Tauge merupakan salah satu sumber media alami yang dapat digunakan untuk media
pertumbuhan mikroalga. Media tersebut mengandung unsur makro dan mikro,
vitamin, mineral serta asam amino yang dibutuhkan bagipertumbuhan mikroalga
(Nining et al., 2005). Kandungan
tauge pada ETA berfungsi sebagai sumber vitamin, nitrogen organik dan senyawa
karbon. Sedangkan sukrosa sebagai sumber gula dan energy (Prihantini, 2003).
Agar-agar
Agar atau sering juga disebut sebagai
agar-agar berasal dari bahasa Melayu yang pada awalnya digunakan untuk ekstrak
kering maupun untuk makroalgae penghasil agar. Kemudian dalam perkembangannya,
istilah yang digunakan untuk makroalgae penghasil agar adalah agarofit
(agarophyte). Agar telah digunakan oleh beberapa negara di Asia Timur selama
berabad-abad, yakni antara lain sebagai bahan pembuatan kue (puding) dan
berbagai produk makanan lainnya. Agar juga merupakan produk makroalgae pertama
yang berhasil diekstraksi, dimurnikan dan dikeringkan (Rasyid, 2004).
Resazurin
Resazurin
merupakan anaerob indikator yang akan membentuk warna merah pada media yang
dibuat jika kontak dengan oksigen. Jika oksigen dalam media semakin banyak maka
warna merah yang terbentuk juga akan semakin pekat. Resazurin digunakan sebagai
jenis pewarna untuk uji reduksi warna dengan prinsip seperti biru metilen, namun
waktu reduksi yang dibutuhkan lebih cepat daripada biru metilen (Turoski,
2001).
Bakto Agar
Bakto agar dalam bidang
mikrobiologi sering digunakan untuk pertumbuhan mikroba karena bakto agar lebih
murni dibandingkan dengan agar – agar sehingga lebih transparan sehingga sel –
sel mikroba tumbuh dapat dengan mudah dilihat (Winarno, 1999).
Jenis Mikroorganisme
Bakteri dibagi menjadi dua yaitu bakteri aerob
merupakan bakteri yang membutuhkan oksigen untuk proses respirasi. Oksigen juga
dibutuhkan bakteri untuk pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan bereproduksi.
Sedangkan bakteri anaerob adalah bakteri yang hidup di lingkungan yang tidak
mengandung oksigen. Bakteri aerob lain meliputi Pseudomonas, bakteri
Staphylococcus (fakultatif), dan spesies Enterobacteriacae (fakultatif) (Dwidjoseputro,
1990).
MATERI
DAN METODE
Materi
Alat dan bahan
yang digunakan dalam praktikum pembuatan media aerob adalah 100 gr tauge, 1,5
gr agar-agar, 500 mL aquades, tabung reaksi, pipet mohr, sumbat kapas,
Erlenmeyer, timbangan, panic, kompor, dan autoclave. Alat dan bahan yang
digunakan dalam pembuatan media anaerob adalah 3,7 gr BHI (Brain heart
Infision), 1 gr susu skim, 0,05 gr sistein, 0,5 mL hemin, 0,05 resazurin, 0,29
bacto agar, 100 mL aqudes, tabung hungatte, botol scott, pipet mohr, spoit, botol
film, alumunium foil, sumbat karet, isolasi panviks, dan autoclave.
Metode
Pembuatan media
aerob dimulai dengan menambahkan 500 mL aquades ke dalam 100 gr tauge, untuk
kemudian dipanaskan menggunakan panci. Setiap 5 menit sekali dilihat volume
larutan agar volumenya tetap konstan 500 mL. dan akan menghasilkan larutan
(super natan). Jika dirasa sudah cukup mengekstrak, supernatant tersebut
diambil sebanyak 100 mL untuk kemudian dihomogenkan dengan 1,5 gr agar dalam
erlenmeyer. Hasil yang Homogen tersebut kemudian diambil sebanyak 3 mL ke dalam
tabung reaksi. Tabung yang telah berisi media tersebut kemudian dimiringkan
dengan tujuan memperluas daerah pengamatan.
Pembuatan media
anaerob dimulai dengan mencampurkan 40 mL aquadest, resazurin, susu skim, BHI,
hemin, dan bacto agar dalam botol scott, kemudian ditambahkan aquadest sampai
volumenya menjadi 100 mL. Botol scott tersebut, kemudian ditutup menggunakan
alumunium foil dan dipanaskan di atas kasa sampai warnanya berubah dari kuning,
menjadi merah muda, sampai menjadi kuning jernih. Campuran tersebut kemudian
dialiri gas CO2 sampai dingin, untuk kemudian ditambahkan sistein dengan
terus mengaliri menggunakan gas CO2. Media tersebut kemudian
dimasukkan masing-masing sebanyak 5 mL ke dalam tabung hungate dan ditutup
menggunakan penyumbat karet. Media dalam tabung hungate tersebut kemudian di
autoclave setelah dikemas dengan isolasi penviks dan dijadikan satu dengan
media sejenis dalam satu plastik tahan panas.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Media
Aerob Media
Anaerob
Pembahasan
Perubahan
warna pada media anaerob mengindikasikan bahwa media tercampur oleh adanya
oksigen. Kare media bersifat anaerob maka apabila terdapat sedikit oksigen akan
menyebabkan perubahan warna merah bata yang menunjukkan media tidak steril.
Mikroba
anaerob membutuhkan dalam siklus hidupnya dengan menyerap gas CO2 secara penuh.
Dan pemakaian selang gas CO2 sangat diperlukan untuk menjaga mikroba agar tetap
hidup dalam media.
Bakteri metanogen,Bakteri
dari kelompok ini bersifat anaerobik dan kemosintetik. Habitatnya di rawa-rawa
dan daerah yang kurang oksigen. Makanan diperoleh melalui pembusukan sisa-sisa
tumbuhan yang mati. Proses pembusukan tersebut menghasilkan metana. Metana
disebut juga biogas. Beberapa jenis bakteri metanogen dapat hidup bersimbiosis
dalam rumen herbivora yang berfungsi memfermentasi selulosa. Beberapa jenis
bakteri dari kelompok ini dapat hidup pada suhu tinggi. Bakteri metanogen hidup
sebagai pengurai. Contoh bakteri metanogen yaitu Methanobacterium.
Bakteri Halofil, Bakteri
halofil mampu hidup di lingkungan yang berkadar garam tinggi. Sebagian dari
bakteri halofil mampu melakukan fotosintesis karena mempunyai pigmen berupa
bakteriorhodopshin. Contoh bakteri halofil yaitu Halobacterium.
Ekstrak tauge
juga dapat digunakan sebagai media alami bagi pertumbuhan mikralga. Tauge kacang hijau
merupakan jenis sayuran yang umum dikonsumsi, mudah diperoleh, ekonomis, dan
tidak menghasilkan senyawa yang berefek toksik.Tauge kacang hijau mengandung
makronutrein, mikronutrein, vitamin, asam amino, serta gula yang dibutuhkan
bagi pertumbuhan mikoalga (Richmond, 1986). BHIB (Brain Heart Infusion Broth)
merupakan media untuk menumbuhkan mikroorganisme. Media ini didapatkan dengan
menggunakan infus dehidrasi otak babi dan jaringan jantung yang dapat
dilengkapi antibiotik, berbagai jumlah natrium klorida, ragi, dan serum untuk
menyediakan media yang kaya untuk bakteri, ekstrak ragi, dan jamur(Atlas,
1993).
Media yang dapat digunakan untuk mengembangbiakkan mikroba dapat dibuat
dari bahan alam seperti tauge, kentang, wortel, daging, telur, susu ataupun
dari bahan buatan yaitu senyawa kimia organik atau anorganik(Suriawiria,1985). Pemilihan media yang baik akan menunjang pertumbuhan
dan perkembangbiakan mikroba. Kesesuaian suhu, pH, kecukupan nutrien pada media
merupakan beberapa syarat untuk mikroba tersebut dapat tumbuh dan berkembang
dengan baik. Pada pembuatan media untuk berbagai macam organisme harus
menggunakan bahan yang mengandung banyak protein dangan berbagai konsentrasinya
sehingga dapat menumbuhkan bakteri (Stanier, 2001). Salah satu bahan yang
sering dipergunakan adalah tauge. Tauge berfungsi sebagai sumber protein,
sukrosa berfungsi sebagai sumber karbohidrat sehinga cocok dijadikan untuk
media pertumbuhan mikroba. Selain tauge dapat juga
kita ganti dengan kentang, karena kentang mengandung pati.
Bakteri nitrifikasi adalah kelompok bakteri yang mampu
menyusun senyawa nitrat dari senyawa amonia yang pada umumnya berlangsung
secara aerob di dalam tanah.
KESIMPULAN
Media adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat
hara yang berguna untuk membiakkan mikroba. Pemilihan media yang baik akan menunjang pertumbuhan
dan perkembangbiakan mikroba. Kesesuaian suhu, pH, kecukupan nutrien pada media
merupakan beberapa syarat untuk mikroba tersebut dapat tumbuh dan berkembang
dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Atlas, R. M. 1993. Handbook of microbiological media, p.
147-153, CRC Press, Boca Raton, FL.
Poedjiadi,
Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta (ID) : Indonesia Press.
Richmond.
1986. Microalgae Culture.CFC Critical
Review in Biotechnology 4(4):368-438.
Sutedjo
MM, Kartasapoetra AG, Sastroatmodjo RDS. 1996. Mikrobiologi Tanah. Jakarta (ID)
: PT. Rineka Cipta.
Stanier,
Y. R. Dkk. 2001. The Microbial World. Prenticel Hall. Inc. EigleWood. New Jersey.
Winarno, F G. 1990.
Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Suriawiria.
1985. Pengantar Mikrobiologi Umum.
Bandung (ID) : Penerbit Angkasa Bandung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar