|
Laporan
praktikum ke : 10
|
Hari/tanggal
: 28 Mei 2015
|
|
Mikrobiologi
nutrisi
|
Nama
asisten :
Gusti A. Gultom ( D24080102)
|
PENUMBUHAN BAKTERI ASAM LAKTAT
Wungu Endah Cahyani
D24130061
Kel 02/G2

DEPARTEMEN
ILMU NUTRISI & TEKNOLOGI PAKAN
FAKULTAS
PETERNAKAN
INSTITUT
PERTANIAN BOGOR
2015
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Bakteri asam laktat (BAL) merupakan
kelompok bakteri gram positif, tidak berspora, berbentuk bulat atau batang,
yang mempunyai kemampuan untuk membentuk asam laktat sebagai hasil utama dari
metabolisme karbohidrat. Asam laktat mampu menghambat pertumbuhan berbagai tipe
bakteri pembusuk dan patogen termasuk spesies Gram negatif dan Gram positif.
Rumen merupakan
tempat utama terjadinya proses fermentasi dan
didalamnya terdapat 1010- 1011 bakteri danlebih dari 107
protozoa per g isi rumen Jumlah bakteri di dalam rumen ada sebanyak 109
– 1010 dan jumlah protozoalebih sedikit yaitu sekitar 106
untuk setiap ml isi rumen.
Populasi mikroba didalam cairan
rumen sepuluh kali lebih banyak dari pada jumlah populasi mikroba yang terdapat
didalam feses dan ini akan mempengaruhi kegiatan fermentasi dan degradasi
substrat yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kecernaan BK substrat
secara keseluruhan.
Tujuan
Praktikum ini bertujuan
untuk mengetahui media tumbuh bakteri asam laktat dan mengetahui
perhitungannya.
TINJAUAN PUSTAKA
MRSA vs MRSB
Medium
broth deMan Rogosa Sharpe (MRS) Merck
Medium deMan Rogosa Sharpe (MRS) broth dibuat
dengan mengencerkan 52,2 gram bubuk Merck MRS broth dalam 1 liter
akuades, kemudian diaduk menggunakan stirrer dan dipanaskan sampai bubuk
terlarut merata. Medium MRS agar disterilkan menggunakan autoclave selama 15 menit
pada suhu 121oC.
Komposisi MRS broth: 10 gram kasein/ daging pepton, 8 gram ekstrak daging, 4
gram ekstrak yeast, 20 gram D(+)-glucose,
2 gram di-Pot assium hydrogen phosphate, 1 ml tween 80, 2 gram diammonium
hydrogen citrate, 5 gram sodium asetat, 0,2 gram magnesium sulfat, 0,04
gram mangan sulfat (Rahayu dan
Margino 1997).
Medium Agar MRS Merck
Medium MRS agar dibuat dengan mengencerkan 68,2 gram
bubuk MRS agar dalam 1 liter akuades. Kemudian diaduk menggunakan stirer dan
dipanaskan sampai bubuk terlarut
merata. Medium MRS agar lalu disterilkan menggunakan autoclave selama 15
menit pada suhu 121oC. Komposisi MRS agar (per liter)
adalah: 10 g pepton kasein, 10 g meat extract, 4 g yeast extract,
20 g D (+) glukosa, 2 g di-Kalium hydrogen phosphate, 1 g tween 80,
2 gr ammonium-hydrogencitrate, 5 g sodium acetate, 0,2 g magnesium
sulfate, 0,04 gram manganese sulfate, dan 14 gram agar-agar (Rahayu dan Margino 1997).
Peran BAL
Bakteri
asam laktat (BAL) merupakan kelompok bakteri gram positif, tidak berspora,
berbentuk bulat atau batang, yang mempunyai kemampuan untuk membentuk asam laktat
sebagai hasil utama dari metabolisme karbohidrat. Secara ekologis kelompok
bakteri ini sangat bervariasi dan anggota spesiesnya dapat mendominasi
bermacam-macam makanan, minuman atau habitat yang lain seperti tanaman, jerami,
rongga mulut dan perut hewan ternak (Lay 1994). Peran
bakteri asam laktat di dalam rumen adalah untuk melakukan metabolisme asam
laktat menjadi asam propionat. Konsentrasi asam laktat menurun sehingga pH
rumen lebih stabil(Arora 1989).
Bakteri
asam laktat dapat dipandang sebagai bakteri cacat metabolisme, yang mungkin
sebagai akibat spesialisme untuk tumbuh dalam air susu dan lain-lain tempat
huni yang kaya nutrien dan zat-zat tambahan telah kehilangan kemampuan untuk
mensintesis sejumlah besar metabolit. Disisi lain bakteri-bakteri asam laktat
ini mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki oleh sebagian besar mikroorganisme.
Bakteri ini mampu mengolah laktosa. Laktosa tidak ditemukan pada
tumbuh-tumbuhan, laktosa ini dibentuk oleh hewan mamalia dan disekresi bersama
air susu atau dipasok ke dalam tubuh melalui air susu. Pada pengolahan laktosa
ini harus ada penyesuaian pada kondisi daerah huni seperti terdapat dalam
usus hewan mamalia (Schlegel 1994).
Metabolisme BAL
Bakteri asam laktat termasuk golongan osmotoleran yang
mempunyai Aw minimal 0,95 untuk pertumbuhannya, tetapi beberapa bakteri asam
laktat mampu bertahan pada Aw 0,93. Bakteri asam laktat berdasarkan sifat
fermentasinya dibagi menjadi dua golongan, yaitu homofermentatif dan
heterofermentatif. Perbedaan produk akhir homofermentatif dan heterofermentatif
adalah dalam metabolisme glukosa diakibatkan oleh perbedaan fisiologis dan
genetiknya (Hadi et al. 1990).
BAL
hanya memperoleh energi dari metabolisme gula sehingga habitat pertumbuhannya
hanya terbatas pada lingkungan yang menyediakan cukup gula atau bisa disebut
dengan lingkungan yang kaya nutrisi. Kemampuan mereka untuk mengasilkan senyawa
(biosintesis) juga terbatas dan kebutuhan nutrisi kompleks BAL meliputi asam
amino, vitamin, purin, dan pirimidin.Pada heterogen, tidak ada aldolase dan
heksosa isomerase tetapi menggunakan enzim fosfoketolase dan menghasilkan CO2.Sedangkan
homogen melibatkan aldolase dan heksosa aldolase namun tidak memiliki
fosfoketolase serta hanya sedikit atau bahkan sama sekali tidak menghasilkan
CO2 (Dehority 2004).
Kelompok homofermentatif menghasilkan asam laktat sebagai
produk utama dari fermentasi glukosa. Contoh bakteri yang termasuk
homofermentatif adalah Pediococcus
dan Streptococcus serta sebagian Lactobacillus. Sedangkan kelompok
heterofermentatif menghasilkan senyawa-senyawa lain di samping asam laktat,
seperti karbon dioksida dan etanol dalam jumlah yang hampir sama, serta asam
asetat. Contoh bakteri asam laktat yangtermasuk heterofermentatif adalah
generatif Leuconostoc dan Bifidobacterium (Cahyono 1996).
BAL sebagai
Probiotik
Bakteri asam
laktat diisolasi untuk menghasilkan antimikroba yang dapatdigunakan sebagai
probiotik. Probiotik yaitu mikroba hidup yang bila dikonsumsi akanmenimbulkan
efek terapeutik pada tubuh dengan cara memperbaiki keseimbanganmikroflora dalam
saluran pencernaan (Fueller 1989). Manfaat kesehatan dan terapeutikidiperoleh
akibat terbawanya bakteri-bakteri hidup ke dalam saluran pencernaan yangmampu
memperbaiki komposisi mikroflora usus. Bakteri asam laktat (BAL) dikenal
memiliki peran penting pada kehidupan manusia, karena terlibatnya dalam
berbagai makanan fermentasi maupun keberadaanya di jalur intestin.Kemampuan
bakteri ini untuk tumbuh di jalur intestin dapat digunakan untuk menjaga
keseimbangan mikroflora intestin.Sehingga tubuh tidak mudah terserang infeksi
patogen interik.Potensi inilah yang menjadi alasan bakteri asam laktat,
khususnya Lactobacillus digunakan sebagai agensi probiotik (Rahayu dan Margino
1997).
BAL sebagai prebiotik
Prebiotik
yaitu komponen pangan (food ingredients)
yang tidak dapat dihidrolisis oleh enzim-enzim pencernaan dalam saluran
pencernaan manusia namun komponen ini dapat menguntungkan tubuh dengan cara
menstimulasi pertumbuhan atau aktivitas sejumlah bakteri misalnya BAL, Bifidobacterium, Enterococcus, Bacteroides dan
Eubacterium di dalam usus besar yang
pada akhirnya dapat meningkatkan kesehatan tubuh (Winarno
et. al. 2007).
Rumen vs Feses
Mann dan Orkov (1973) dan Sharpe (1975) menyatakan bahwa
ada persamaan spesies mikroba yang terdapat di dalam rumen dan feces seperti Bacteroides
ruminicola, Fusobacterium sp, Micrococcus sp, Streptococci sp dan Rumincoccus
sp namun belum ada informasi yang menyatakan jumlah terperinci dari
populasi masing-masing mikroba tersebut baik yang terdapat didalam cairan rumen
maupun didalam cairan sekum dan feses. Mikroba-mikroba tersebut tumbuh
disaluran usus besar dan mampu mencerna sisa pakan. Namun jika digunakan
sebagai inokulum potensinya lebih rendah dibanding mikroba dari cairan rumen. Todar
(1998) mengatakan bahwa jumlah populasi mikroba didalam cairan rumen sepuluh
kali lebih banyak dari pada jumlah populasi mikroba yang terdapat didalam feses
dan ini akan mempengaruhi kegiatan fermentasi dan degradasi substrat yang
secara tidak langsung akan mempengaruhi kecernaan BK substrat secara
keseluruhan. Penurunan pH juga dapat memungkinkan menurunkan aktivitas
mikroorganisme rumen, akibat berkurangnya pertumbuhan mikroba, khususnya
bakteri sellulolitik sehingga berdampak pada proses pencernaan fermentative dalam
rumen, hal ini berdampak menurunnya kadar nutrien, akibat ketidakmampuan
mikroorganisme mendegragdasi lignin sehingga menyebabkan penurunan kecernaan
bahan kering. Feses berpotensi digunakan sebagai pengganti cairan rumen dalam
teknik in vitro. Mikroba yang terdapat pada feses segar ataupun
dalam rektum masih dapat dimanfaatkan sebagaimana yang dilakukan dalam
penggunaan cairan rumen dalam teknik in vitro (Balfe 1985).
MATERI DAN
METODE
Materi
Alat yang
digunakan pada praktikum ini adalah roller tube, inkubator, water bath,
saringan, label, tabung reaksi , tutup karet, gunting, syringe, rak tabung
reaksi, alkohol, tissue, sprayer, solatip.
Bahan yang digunakan
pada praktikum ini adalah cairan rumen dan feses sapi, media agar MRSB, NaCl
fisiologis 0,8 %, aquades dan larutan pengencer.
Metode
Feses
dilarutkan di larutan fisiologis NaCl masing-masing 1 gram. Lalu diambil 0,1 ml
dan diencerkan dalam 4,9 ml media putih. Sebelumnya media dihomogenkan dengan
membentuk angka 8 sebanyak 20 kali. Pengenceran dilakukan sebanyak 4 kali,
masing-masing pengencer diambil 0,1 ml lalu inokulasikan ke media agar MRSB.
Media agar dipanaskan terlebih dahulu. Lalu setelah inokulasi, letakkan di atas
roller tube, sampai merata (5-7 menit). Isolasi panfix, lalu beri label.
Kemudian simpan di inkubator dengan suhu 39○C.
Sebanyak 0,1 ml
sampel cairan rumen dimasukkan ke dalam media BHI dengan menggunakan syringe
dalam kondisi anaerob. Tahap ini diber label kontrol. Setelah itu media
diratakan dengan menggunakan roller tube.
Selanjutnya dilakukan pengenceran dengan cara sebanyak 0,1 ml sampel asli
(cairan rumen) dimasukkan menggunakan syringe ke dalam tabung reaksi yang berisi
larutan pengencer 4,9 ml. Pengenceran ini disebut P1. Lalu dihomogenkan.
Kemudian dari P1 diambil 0,1 ml dimasukan ke sampel P2 yang berisi 4,9 ml
larutan pengencer. Begitu seterusnya sampai P4.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Populasi Bakteri Asam Laktat
|
|
Kontrol
|
P1
|
P2
|
P3
|
P4
|
|
Rumen
|
153
|
127
|
-
|
-
|
-
|
|
Feses
|
263
|
1
|
-
|
-
|
-
|
Perhitungan populasi BAL pada
praktikum ini didapatkan hasil bahwa pada cairan feses lebih banyak jumlah
populasi bakteri dibandingkan dengan cairan rumen. Pada kontrol rumen
didapatkan total BAL 153, pada P1 menurun menjadi 127, sedangkan P2, P3 dan P4
tidak ditemukan bakteri karena terjadi kontaminasi. Pada kontrol feses
didapatkan total BAL 263 lebih banyak dibandingkan di cairan rumen, hal ini
tidak sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa jumlah populasi mikroba
didalam cairan rumen sepuluh kali lebih banyak dari pada jumlah populasi
mikroba yang terdapat didalam feses (Todar 1998). Jumlah
populasi BAL pada feses lebih banyak dibandingkan dengan rumen karena feses
yang digunakan untuk praktikum masih dalam keadaan segar sedangkan rumen yang
digunakan sudah tidak segar yang menyebabkan mikroba sudah mati/menurun
populasinya.
Feses (digesta) diencerkan untuk mempermudah proses
inokulasi sehingga dapat disuntikkan. Selain itu, supaya bakteri anaerob ini
tidak terkena O2(oksigen).
KESIMPULAN
Media MRSA dan MRSB adalah media pertumbuhan untuk
Bakteri Asam Laktat agar bakteri dapat mengaktifkan asam laktatnya. Hasil yang
didapatkan bahwa populasi BAL lebih banyak terdapat pada cairan feses daripada
cairan rumen.
DAFTAR PUSTAKA
Arora, S.P.
1989. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. Edisi Indonesia. PenerbitGajah Mada
University Press. Yogyakarta.
Balfe, B. 1985. The development of a twostage technique
for the in vitro digestion of hay using ovine faeces (instead of rumen
liquor) as a source of microorganisms BSc (hons) Dissertation University of
Wales, Bangor
Cahyono, R. 1996. Pemanfaatan Wortel
Untuk Produksi Minuman Sehat Pencegah Diare Bervitamin B-12 melalui Proses
Fermentasi Laktat. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian, IPB, Bogor.
Dehority,
B. A. 2004. Rumen Microbiology. Nottingham University Press, Nottingham.
Hadi, R. Dan S. Fardiaz. 1990. Bakteri
Asam Laktat dan Peranannya dalam Pengawetan Makanan. Media Teknologi. Pangan
Vol. 4 (I) : 73-79.
Mann, S.O. dan dan Ørkov, E.R. 1973. The effect of rumen
and post rumen feeding of carbohydrates on the caecal mciroflora of sheep. Journal
of Applied Bacteriology 36: 475 – 484.
Rahayu, E. S. dan S. Margino. 1997. Bakteri Asam
Laktat : Isolasi dan identifikasi.Materi Workshop diselenggarakan di PAU Pangan
dan Gizi. Universitas GajahMada. Yogyakarta.
Schlegel. 1994. The Technologi
of Food Preservation. Penterjemah : M. Muljoharjo.
US Press. Jakarta.
Todar, K.
(2008). Lactic Acid Bacteria. Todar’s Online Textbook of Bacteriology.
www.textbookofbacteriology.net
(28 Mei 2015)
Winarno, FG., dan Fernandez, Ivon., 2007. Susu
Dan Produk Fermentasi, Mbrio Press, Bogor Jawa Barat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar