|
Laporan
Praktikum Ke : 4
|
Hari/Tanggal : Selasa, 24 Maret 2015
|
|
Mikrobiologi
Nutrisi
|
Tempat
Praktikum : Lab. BMN
|
|
|
Nama
Asisten :
Afdola
R. N. D24110041
|
PENGENALAN
PERCOBAAN INVITRO
Wungu Endah Cahyani
D24130061
Kelompok 02/G1
![]() |
DEPARTEMEN
ILMU NUTRISI & TEKNOLOGI PAKAN
FAKULTAS
PETERNAKAN
INSTITUT
PERTANIAN BOGOR
2015
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Teknik kecernaan in vitro memiliki
keuntungan lebih singkat, lebih ekonomis, tidak adanya resiko kematian pada
ternak, dan prediksi yang tidak berbeda jauh dengan metode in vivo atau yang
biasa dilakukan untuk mengukur kecernaan pada ternak ruminansia. Dasar dari metode ini adalah menirukan proses
yang terjadi dalam rumen dan cara yang paling sering digunakan adalah teknik in
vitro yang ditemukan oleh Tilley dan Terry (1963). Pola degradasi di dalam rumen dapat
dipelajari dengan menggunakan variasi waktu inkubasi pada metode standar. Metode in vitro juga dapat digunakan untuk
mengetahui konsentrasi produk akhir fermentasi.
Banyak peneliti telah memodifikasi prosedur Tilley dan Terry (1963),
seperti yang telah dilakukan oleh Sutardi (1983).
Metode in vitro adalah proses
metabolisme yang terjadi di luar tubuh ternak.
Prinsip dan kondisinya sama dengan proses yang terjadi di dalam tubuh
ternak yang meliputi proses metabolisme dalam rumen dan abomasum. pH rumen dan
reticulum berkisar antara 5,5-7,0 dan bervariasi sesuai dengan rasio pemberian
konsentrat. Metode in vitro (metode tabung) harus menyerupai sistem in vivo
agar dapat menghasilkan pola yang sama sehingga nilai yang didapat juga tidak
terlalu berbeda jauh dengan pengukuran secara in vivo.
Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk
mempelajari prinsip dan prosedur percobaan in
vitro.
TINJAUAN PUSTAKA
Cairan Rumen
Cairan rumen merupakan limbah yang diperoleh dari rumah potong hewan yang
dapat mencemari lingkungan apabila tidak ditangani dengan baik. Bagian cair
dari isi rumen kaya akan protein, vitamin B kompleks serta mengandung
enzim-enzim hasil sintesa mikroba rumen. Cairan rumen merupakan bahan yang
dapat dimanfaatkan sebagai activator, yaitu bahan yang dapat merangsang
pertumbuhan mikroorganisme dekomposer dalam pengomposan. Hal ini disebabkan isi
rumen masih mengandung karbohidrat, protein, mineral, dan vitamin larut air
yang dibutuhkan oleh mikroorganisme. Menurut Church dan W.G. Pond (1988),
menyatakan bahwa cairan rumen mengandung enzim alfa amylase, galaktosidase,
hemiselulosa dan selulosa.
Kondisi dalam rumen adalah anaerobik dengan temperature 38-420C. Saliva
yang masuk kedalam rumen berfungsi sebagai buffer dan membantu mempertahankan
pH tetap pada 6,8. Saliva bertipe cair, membuffer asam-asam, hasil fermentasi
mikroba rumen. Selain itu juga saliva merupakan zat pelumas dan surfactant yang
membantu di dalam proses mastikasi dan ruminasi. Saliva mengandung
elektrolit-elektrolit tertentu seperti Na, K, Ca, Mg, P, dan urea yang
mempertinggi kecepatan fermentasi mikroba. Sekresi saliva dipengaruhi oleh
bentuk fisik pakan, kandungan bahan kering, volume cairan isi perut dan
stimulasi psikologis (Arora 1995).
Perbedaan In Vitro, In Vivo dan In Sacco
In vitro
Metode
pengukuran kecernaan secara in vitro
pada prinsipnya adalah sama dengan in
vivo tetapi dikerjakan di laboratorium (Sunarso et al., 1990). Metode kecernaan in
vitro dilakukan dengan cara menginkubasi sampel yang akan dianalisa dalam
cairan rumen selama 48 jam dan selanjutnya pada tahap kedua diinkubasi dengan
pepsin dan HCl selama 48 jam untuk menghilangkan protein bacteria dan protein
pakan yang tidak berubah (Soejono 1990).
Menurut
Hungate (1966) yang disitasi Sunarso et
al. (1990), bahwa terdapat hubungan positif antara kecernaan pakan yang
ditentukan secara in vitro dengan in vivo. Keuntungan teknik in vitro dalam mempelajari kegiatan
mikroorganisme rumen adalah dapat mengurangi pengaruh yang disebabkan oleh
hewan induk semang (Johnson, 1996 disitasi Sunarso et al., 1990). Hasil uji kecernaan in vitro cukup memuaskan dan membutuhkan waktu yang lebih singkat
(Sunarso et al., 1990).
Hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam melakukan penelitian secara in vitro adalah larutan penyangga, suhu fermentasi, lama fermentasi
dan prosedur analisis (Sunarso et al.,
1990).
In vivo
Kualitas bahan pakan dicerminkan
dari nilai kecernaan. Untuk mengukur tingkat
kecernaan suatu bahan pakan dibutuhkan ternak sebagai hewan percobaan, metode ini disebut metode in vivo.
Bahan pakan atau ransum yang akan dicoba
diberikan pada hewan, baik ternak kecil seperti marmut, tikus, ayam, domba bahkan kuda atau sapi. Selisih
antara intake BK dan feses yang dihasilkan
itu adalah BK yang dicerna. Denga membagi dengan jumlah intake BK maka akan
diketahui prosentase kecernaanya (Close dan Menke 1986).
In sacco
Tipe
evaluasi pakan in sacco dengan
kantong nylon merupakan kombinasi pengukuran nilai nutrisi pakan di lapang dan
di laboratorium. Metode ini telah digunakan secara intensif dalam mengestimasi
degradasi bahan pakan ternak ruminansia, terutama degradasi protein di dalam
rumen. Di samping itu dapat juga untuk mengestimasi kecernaan serat kasar dan
bahan kering, kehilangan nitrogen bahan makanan dan persediaan protein (Orskov
dan McDonald 1979).
Prinsip
metode in sacco adalah suatu pakan
dimasukkan ke dalam kantong kemudian diinkubasikan di dalam rumen ternak yang
berfistula. Dalam masa inkubasi tertentu, pakan di dalam kantong akan mengalami
degradasi karena fermentasi mikroba rumen dan partikel yang mudah larut dalam
rumen. Sisa atau residu yang masih terdapat dalam kantong merupakan pakan yang
tidak terdegradasi. Dengan metode ini ternyata laju dan tingkat degradasisuatu
pakan di dalam rumen dapat diestimasi dengan cepat tanpa memerlukan banyak
prosedur yang rumit. Nilai-nilai fraksi pakan yang terlarut, fraksi tidak larut
tapi potensial untuk terdegradasi dan laju degradasi zat makanan merupakan
parameter utama yang akan diukur dengan teknik in sacco ini (Orskov 1992).
Pengukuran
nilai nutrisi melalui teknik in sacco
ini tidak hanya dilakukan melalui rumen, kini telah dikembangkan evaluasi
kecernaan bahan pakan secara lebih menyeluruh. Evaluasi tersebut juga dilakukan
di intestinum dengan metode in sacco
mobil (mobile nylon bag technique).
Prinsip metode ini adalah memasukkan residu pakan setelah inkubasi dalam rumen
ke dalam intestinum melalui fistula intestinum dan diambil melalui feses.
Keunggulan metode in sacco adalah
dapat menggambarkan kinetic degradasi (kd), memperhitungkan gerakan laju pakan
keluar rumen (kp) dan mempunyai koreksi yang erat dengan metode in vivo (Osuji et al. 1993).
McDougall
Pembuatan saliva buatan
(McDougall) adalah dengan mencampurkan bahan- bahan kimia seperti : NaHCO3 58,8
gr, Na2HPO4.7H2O 42 gr, NaCl 2,82 gr, KCl 3,42 gr, CaCl2 0,24 gr, MgSO4.7H2O
0,72 gr dengan air destilasi sebanyak 5 liter, kemudian dikocok denagan CO2
secara perlahan. Saliva buatan ini bertujuan menurunkan pH hingga mencapai 6,8
(Pusparini 2012). Mc.Dougall dibuat
dengan komposisi dan sifat-sifat mirip saliva rumen. Adanya sifat buffer dari
Mc.Dougall karena mengandung fosfat dan bikarbonat. Selain itu, saliva tiruan
ini juga dapat melicinkan pakan sebelum ditelan. Saliva sangat banyak
disekresi oleh sapi dewasa khususnya bila ransum yang diberikan komposisi
hijauannya tinggi. Asam-asam organik yang diproduksi oleh mikroorganisme dalam
rumen dinetralisir oleh saliva, sehingga pH rumen dipertahankan antara 6,5 dan
7,5, merupakan medium yang cocok untuk pertumbuhan dan aktivitas mikroba. Penggunaan saliva buatan atau larutan
Mc.Dougall pada proses in vitro bertujuan untuk mempertahankan pH
selama proses fermentasi berlangsung (Widodo 2010).
MATERI DAN
METODE
Materi
Alat
yang digunakan pada praktikum ini adalah tabung fermentor, tabung Erlenmeyer,
sendok, tabung film, shaker water bath, magnetic stirrer, pipet mohr, bulb,
termos, kertas indicator pH, timbangan analitik, dan spoit. Bahan yang
digunakan adalah larutan Mc Dougall, aquadest, larutan HgCl2, cairan
rumen, dan sampel.
Metode
Pembuatan
Larutan Saliva Buatan
Sebanyak 0,098 gram NaHCO3,
0,7 gram Na2HPO4, 0,057 gram HCl, 0,047 gram NaCl, dan
0,012 MgSO4 ditimbang. Masing-masing bahan dilarutkan terlebih
dahulu dalam aquadest dan dicampurkan hingga homogen dengan magnetic
stirer.Setelah dimasukan bahan tersebut, sebanyak 0,004 gram CaCl2ditimbang
dan dicampurkan ke dalam larutan yang telah dibuat sebelumnya.Larutan
dihomogenkan kembali dengan magnetic stirer.Aquadest ditambahkan hingga
mencapai volume 100 ml dan dihomogenkan kembali.pH awal larutan saliva buatan
diukur menggunakan kertas indikator pH.
Proses
Fermentasi
Sebanyak 12 ml
larutan saliva buatan dipipet dan dimasukkan ke dalam tabung fermentor.Cairan
rumen sebanyak 8 ml dipipet dan dicampurkan ke dalam larutan saliva
buatan.Selama 30 detik, gas CO2 dialirkan ke dalam tabung
fermentor.Tabung fermentor dimasukkan ke dalam shaker waterbath dengan suhu 39°
C selama 10 menit.
Pengamatan
Jumlah Populasi Protozoa
Sejumlah kecil sampel cairan rumen
diambil, diletakkan pada gelas objek, dan ditutup dengan cover glass.Preparat
cairan rumen diletakkan di bawah mikroskop untuk dilakukan pengamatan terhadap
populasi protozoa.Perbesaran mikroskop yang digunakan adalah 10x10.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Hasil
Cairan rumen
yang diamati dibawah mikroskop menunjukkan banyaknya protozoa yang terdapat di
dalam rumen. Terlihat pula ada yang bergerak aktif maupun yang diam. Gambar
berikut akan menggambarkan hasil pengamatan dengan mikroskop.
Gambar 1
Protozoa yang terlihat dibawah mikroskop (10x10)
Pembahasan
Hasil
pengamatan pada kecernaan invitro cairan rumen, didapatkan hasil bahwa cairan
rumen yang ditambahkan larutan McDougall sebelum difermentasikan terdapat
banyak sekali protozoa yang bergerak sangat cepat. Pada awalnya protozoa
berukuran kecil lalu saat beberapa waktu protozoa tersebut mengalami penambahan
ukuran. Setelah difermentasikan, protozoa yang terlihat lebih sedikit
dibandingkan dengan sebelum fermentasi begitupun dengan pergerakannya yang
lebih lambat.
Metode pengukuran kecernaan secara in vitro pada prinsipnya adalah sama
dengan in vivo tetapi dikerjakan di
laboratorium (Sunarso et al., 1990).
Metode kecernaan in vitro dilakukan
dengan cara menginkubasi sampel yang akan dianalisa dalam cairan rumen selama
48 jam dan selanjutnya pada tahap kedua diinkubasi dengan pepsin dan HCl selama
48 jam untuk menghilangkan protein bacteria dan protein pakan yang tidak
berubah (Soejono 1990).
Kualitas bahan pakan dicerminkan
dari nilai kecernaan. Untuk mengukur
tingkat kecernaan suatu bahan pakan dibutuhkan ternak sebagai hewan percobaan, metode ini disebut metode in vivo.
Bahan pakan atau ransum yang akan dicoba
diberikan pada hewan, baik ternak kecil seperti marmut, tikus, ayam, domba bahkan kuda atau sapi. Selisih
antara intake BK dan feses yang
dihasilkan itu adalah BK yang dicerna. Denga membagi dengan jumlah
intake BK maka akan diketahui prosentase kecernaanya (Close dan Menke 1986).
Prinsip metode in sacco adalah suatu pakan dimasukkan ke dalam kantong kemudian
diinkubasikan di dalam rumen ternak yang berfistula. Dalam masa inkubasi
tertentu, pakan di dalam kantong akan mengalami degradasi karena fermentasi
mikroba rumen dan partikel yang mudah larut dalam rumen. Sisa atau residu yang
masih terdapat dalam kantong merupakan pakan yang tidak terdegradasi (Orskov
1992).
Metode invitro Sutardi (1983) menggunakan fermentor berupa tabung polyetilen berkapasitas 50 ml yang
kemudian diisi dengan 1 g sampel, 12 ml larutan buffer McDougall dan 8 ml
cairan rumen segar. Tabung lalu dikocok dengan dialiri CO2 selama 30
detik dan ditutup dengan karet berventilasi. Tabung kemudian dimasukkan ke dalam
shaker waterbath pada suhu 39⁰C untuk menciptakan suasana yang hampir
sama dengan kondisi di dalam rumen dan diinkubasi selama 1, 3, dan 5 jam.
Proses fermentasi dihentikan dengan meneteskan larutan HgCl2 jenuh sebanyak 2
tetes berfungsi untuk mematikan mikroorganisme yang berperan dalam proses
fermentasi. Tabung fermentor disentrifuse pada kecepatan 3000 rpm selama 15
menit. Supernatan diambil untuk analisis konsentrasi NH3 dan VFA, sedangkan
residu diambil untuk analisis DBK dan DBO.
DAFTAR PUSTAKA
Arora, S. P. 1995. Pencernaan Mikrobia pada Ruminansia. Gadjah
Mada University Pres.Yogyakarta (Diterjemahkan oleh R. Murwani).
Church,
D.C. dan W.G. Pond. 1988. Basic Animal Nutrition and Feeding. Third edition. John
Wiley and Sons. New York.
Close,
W and K. Menke. 1986. Selected Topics in Animal Nutrition. Universitaet
Hohenheim. Hohenheim
Hungate,
R.E. 1966. The Rumen and Its Microbe. Academic Press. pp. 78-79.
Orskov,
E.R. and McDonald, L. 1979. Theestimation of protein degradability in the rumen
from incubation measurements weighted according to rate of passage. J. Agriculture
Science Cambridge. 92: 499-503
Orskov,
E.R. 1992. Protein Nutrition in Ruminants. Academic Press. London.
Osuji,
P.O., L.V. Nsahlai and H. Khalili. 1993. Feed Evolution. International
Livestock Centre for Africa. Addis Ababa.
Pusparini, Aidha. 2012. Analisa Spekel
Akustooptik pada Biofilm Saliva Buatan dengan media Arkilik. Institut Teknologi
Sepuluh November. Surabaya.
Soejono,
M. 1990. Petunjuk Laboratorium Analisis dan Evaluasi Pakan. Fakultas
Peternakan. Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta.
Sunarso,
E. Pangestu, J. Achmadi dan F. Wahyono. 1990. Penuntun Praktikum
Ruminologi. Jurusan Nutrisi dan
Makanan Ternak. Fakultas Peternakan.
Universitas Diponegoro. Semarang.
Sutardi,
T., N. A. Sigit dan T. Toharmat. 1983. Standarisasi Mutu Protein Bahan
Makanan Ternak Ruminansia Berdasarkan
Parameter Metabolismenya oleh
Mikrobia Rumen. Proyek Pengembangan
Ilmu dan Teknologi. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Jakarta.
Tillman,
A. D, H. Hartadi, S. Prawirokusumo, S. Reksohadiprodjo dan S. Lebdosoekojo. 1998.
Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan Ke-5. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Widodo,
Eko. 2010. Kecernaan In Vitro. Kawan
Pustaka, Yogjakarta.
LAMPIRAN
Gambar
Literatur
![]() |
![]() |
|
Sebelum
fermentasi
|
Sesudah
fermentasi
|



Tidak ada komentar:
Posting Komentar